Ṭāhā
طٰهٰ
Taha | 135 Ayat | Makkiyah
قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْۗ سَنُعِيْدُهَا سِيْرَتَهَا الْاُوْلٰى
Qāla khużhā wa lā takhaf, sanu‘īduhā sīratahal-ūlā.
Dia (Allah) berfirman, “Ambillah dan jangan takut! Kami akan mengembalikannya pada keadaannya semula.
Ṭāhā - Ayat 21
قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْۗ سَنُعِيْدُهَا سِيْرَتَهَا الْاُوْلٰى
Latin
Qāla khużhā wa lā takhaf, sanu‘īduhā sīratahal-ūlā.
Terjemahan Indonesia
Dia (Allah) berfirman, “Ambillah dan jangan takut! Kami akan mengembalikannya pada keadaannya semula.
Tafsir Ringkas
Melihat perubahan wujud tongkatnya menjadi ular, Nabi Musa merasa takut. Dia berfirman untuk menenangkan hati Nabi Musa, “Wahai Musa, peganglah ia. Ambillah ular itu dan jangan takut. Kami akan mengembalikan wujud-nya kepada keadaannya semula, dari ular menjadi tongkat kembali.”
Tafsir Lengkap
Karena Musa ketakutan maka Allah memerintahkan kepada Nabi Musa untuk menangkap ular itu tanpa ragu-ragu dan takut, sebab ular besar yang ada dihadapannya akan dikembalikan bentuknya menjadi tongkat kembali seperti semula.
وَاضْمُمْ يَدَكَ اِلٰى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاۤءَ مِنْ غَيْرِ سُوْۤءٍ اٰيَةً اُخْرٰىۙ
Waḍmum yadaka ilā janāḥika takhruj baiḍā'a min gairi sū'in āyatan ukhrā.
Kepitlah (telapak) tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia akan keluar dalam keadaan putih (bercahaya) tanpa cacat sebagai mukjizat yang lain.
Ṭāhā - Ayat 22
وَاضْمُمْ يَدَكَ اِلٰى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاۤءَ مِنْ غَيْرِ سُوْۤءٍ اٰيَةً اُخْرٰىۙ
Latin
Waḍmum yadaka ilā janāḥika takhruj baiḍā'a min gairi sū'in āyatan ukhrā.
Terjemahan Indonesia
Kepitlah (telapak) tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia akan keluar dalam keadaan putih (bercahaya) tanpa cacat sebagai mukjizat yang lain.
Tafsir Ringkas
Allah juga memberi Nabi Musa mukjizat yang lain. Dia berfirman, “Dan kepitlah tangan kanan-mu melalui leher bajumu ke ketiak kiri-mu, kemudian tariklah keluar, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang dan bercahaya tanpa cacat, bagai sinar matahari yang benderang. Kami berikan itu kepadamu sebagai mukjizat yang lain, selain tongkat yang berubah menjadi ular.
Tafsir Lengkap
Pada ayat ini Allah memerintahkan Musa a.s. supaya memasukkan tangan kanannya dari lengan bajunya dan meletakkannya di bawah ketiak kirinya, maka setelah dikeluarkan tangannya itu akan menjadi putih bersih bercahaya dan tanpa cacat sedikit pun. Ini adalah mukjizat kedua sesudah mukjizat pertama yang mengubah tongkat menjadi ular yang gesit, untuk menunjukkan kebenaran kerasulannya bagi umat yang ia diutus kepada-Nya.
لِنُرِيَكَ مِنْ اٰيٰتِنَا الْكُبْرٰى ۚ
Linuriyaka min āyātinal-kubrā.
(Kami perintahkan itu) untuk memperlihatkan kepadamu sebagian tanda-tanda kebesaran Kami yang terbesar.
Ṭāhā - Ayat 23
لِنُرِيَكَ مِنْ اٰيٰتِنَا الْكُبْرٰى ۚ
Latin
Linuriyaka min āyātinal-kubrā.
Terjemahan Indonesia
(Kami perintahkan itu) untuk memperlihatkan kepadamu sebagian tanda-tanda kebesaran Kami yang terbesar.
Tafsir Ringkas
Wahai Nabi Musa, kedua mukjizat Kami anugerahkan untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami yang sangat besar. Kami juga menjadikan keduanya sebagai penguat hatimu dalam berdakwah.”
Tafsir Lengkap
Allah melakukan itu semua untuk memperlihatkan bukti-bukti kesempurnaan kekuasaan-Nya dan keajaiban perbuatan-Nya di langit dan di bumi.
اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰى ࣖ
Iżhab ilā fir‘auna innahū ṭagā.
Pergilah kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas.”
Ṭāhā - Ayat 24
اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰى ࣖ
Latin
Iżhab ilā fir‘auna innahū ṭagā.
Terjemahan Indonesia
Pergilah kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas.”
Tafsir Ringkas
Usai membekali Nabi Musa dengan dua mukjizat, Allah memerintahnya untuk berdakwah. Wahai Nabi Musa, pergilah kepada Fir’aun. Sesungguhnya dia benar-benar telah melampaui batas dalam kedurhakaannya kepada-Ku dan kesewenangan terhadap sesama manusia.”
Tafsir Lengkap
Setelah Allah menampakkan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya, kemudian Ia memerintahkan Musa untuk pergi kepada Fir‘aun yang kejam dan mengajaknya agar ia mau menyembah Allah serta mengancamnya akan mendapat murka dan siksa dari Allah jika ia membangkang, dan melampaui batas, durhaka dan sombong, bahkan ia berani mengaku bahwa dirinya adalah tuhan dengan ucapannya, “Sayalah tuhan kalian yang tinggi.”
Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih bahwa setelah perintah itu datang, Musa diam tidak berkata-kata selama tujuh hari memikirkan beratnya tugas yang dibebankan kepadanya. Setelah ia didatangi malaikat dengan ucapan, “Taatilah Tuhanmu sesuai dengan perintah-Nya,” barulah ia bangkit melaksanakan perintah dan mengharapkan agar Allah melapangkan dadanya untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan berani dalam menghadapi Fir‘aun. Ia merasa bahwa beban yang dipikulkan atasnya adalah suatu urusan besar dan amat berat, tidak dapat dilaksanakan kecuali dengan keberanian yang mantap dan dada yang lapang. Ia diperingatkan untuk menghadapi seorang raja yang kekuasaannya paling besar, paling kejam, sangat ingkar sangat banyak tentaranya, makmur kerajaannya, berlebihan dalam segala hal. Puncak kesombongan itu ialah dia tidak mengenal tuhan selain dirinya sendiri.
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ ۙ
Qāla rabbisyraḥ lī ṣadrī.
Dia (Musa) berkata, “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku,
Ṭāhā - Ayat 25
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ ۙ
Latin
Qāla rabbisyraḥ lī ṣadrī.
Terjemahan Indonesia
Dia (Musa) berkata, “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku,
Tafsir Ringkas
Nabi Musa menyadari betapa berat tugas yang Allah amanahkan kepadanya. Dia memohon kepada-Nya seraya berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku sehingga jiwaku mampu menanggung tantangan tugasku, dan mudahkanlah untukku urusanku sehingga dakwahku tidak menemui kesulitan, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku yang menghalangi kelancaranku dalam menyampaikan pesan-Mu agar mereka mengerti perkataanku dengan baik.”
Tafsir Lengkap
Perintah Allah kepada Musa untuk menghadap dan menemui Fir‘aun adalah merupakan tugas yang sangat berat, oleh sebab itu Musa berdoa dan memohon kepada Allah untuk dilapangkan dadanya dan dikuatkan mentalnya ketika ia berhadapan dengan Fir‘aun. Firman Allah :
وَيَضِيْقُ صَدْرِيْ وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِيْ فَاَرْسِلْ اِلٰى هٰرُوْنَ ١٣
Sehingga dadaku terasa sempit dan lidahku tidak lancar, maka utuslah Harun (bersamaku). (asy-Su’arā’/26: 13)
Di samping itu, ia juga memohon kepada Allah supaya dimudahkan segala urusannya, terutama dalam menyampaikan berita kerasulannya kepada Fir‘aun, serta diberi kekuatan yang cukup untuk dapat menyebarkan agama dan memperbaiki keadaan umat, sebab tanpa bantuan dan pertolongan Allah, Musa tidak akan mampu untuk berbuat sesuatu.
وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ ۙ
Wa yassir lī amrī.
mudahkanlah untukku urusanku,
Ṭāhā - Ayat 26
وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ ۙ
Latin
Wa yassir lī amrī.
Terjemahan Indonesia
mudahkanlah untukku urusanku,
Tafsir Ringkas
Nabi Musa menyadari betapa berat tugas yang Allah amanahkan kepadanya. Dia memohon kepada-Nya seraya berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku sehingga jiwaku mampu menanggung tantangan tugasku, dan mudahkanlah untukku urusanku sehingga dakwahku tidak menemui kesulitan, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku yang menghalangi kelancaranku dalam menyampaikan pesan-Mu agar mereka mengerti perkataanku dengan baik.”
Tafsir Lengkap
Perintah Allah kepada Musa untuk menghadap dan menemui Fir‘aun adalah merupakan tugas yang sangat berat, oleh sebab itu Musa berdoa dan memohon kepada Allah untuk dilapangkan dadanya dan dikuatkan mentalnya ketika ia berhadapan dengan Fir‘aun. Firman Allah :
وَيَضِيْقُ صَدْرِيْ وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِيْ فَاَرْسِلْ اِلٰى هٰرُوْنَ ١٣
Sehingga dadaku terasa sempit dan lidahku tidak lancar, maka utuslah Harun (bersamaku). (asy-Su’arā’/26: 13)
Di samping itu, ia juga memohon kepada Allah supaya dimudahkan segala urusannya, terutama dalam menyampaikan berita kerasulannya kepada Fir‘aun, serta diberi kekuatan yang cukup untuk dapat menyebarkan agama dan memperbaiki keadaan umat, sebab tanpa bantuan dan pertolongan Allah, Musa tidak akan mampu untuk berbuat sesuatu.
وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ
Waḥlul ‘uqdatam mil lisānī.
dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku
Ṭāhā - Ayat 27
وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ
Latin
Waḥlul ‘uqdatam mil lisānī.
Terjemahan Indonesia
dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku
Tafsir Ringkas
Nabi Musa menyadari betapa berat tugas yang Allah amanahkan kepadanya. Dia memohon kepada-Nya seraya berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku sehingga jiwaku mampu menanggung tantangan tugasku, dan mudahkanlah untukku urusanku sehingga dakwahku tidak menemui kesulitan, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku yang menghalangi kelancaranku dalam menyampaikan pesan-Mu agar mereka mengerti perkataanku dengan baik.”
Tafsir Lengkap
Musa memohon agar lidahnya fasih dan tidak kelu, sehingga ia lancar dan tegas dalam berbicara, supaya kata-katanya mudah dicerna dan dipahami oleh pendengarnya, hingga mereka memperoleh hidayah Allah. Sebab jika lidah Musa kelu mengakibatkan ia tidak lancar bicaranya.
Para mufassir berbeda pendapat tentang sebab ketidakfasihan (kelunya) lisan Musa, sebagai berikut:
a. Bahwa Musa di waktu kecilnya, ia mencabut selembar rambut dari dagu Fir‘aun, maka marahlah Fir‘aun dan ia berencana untuk melampiaskan kemarahannya itu. Kemudian ia meminta kepada istrinya supaya membawakan balah (kurma mentah) dan se-onggok bara api. Istri Fir‘aun membela Musa dengan mengatakan, “Musa masih kecil, belum tahu apa-apa.” Sekalipun ada pembelaan, tetapi Fir‘aun tetap melaksanakan maksud jahatnya, dan bara itu diletakkan di atas lidah Musa. Sejak itulah lidah Musa menjadi kaku. Oleh karena itu Musa a.s. meminta kepada Allah supaya kekeluan lidahnya itu dihilangkan.
b. Kekeluan lidahnya diakibatkan karena faktor psykologis yang membebani Musa, akibat dari tindakan dan perbuatannya menampar dan membunuh seorang Qibty.
c. Menurut pendapat lain, bahwa kekeluan tersebut akibat bawaan sejak lahir.
يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ
Yafqahū qaulī.
agar mereka mengerti perkataanku.
Ṭāhā - Ayat 28
يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ
Latin
Yafqahū qaulī.
Terjemahan Indonesia
agar mereka mengerti perkataanku.
Tafsir Ringkas
Nabi Musa menyadari betapa berat tugas yang Allah amanahkan kepadanya. Dia memohon kepada-Nya seraya berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku sehingga jiwaku mampu menanggung tantangan tugasku, dan mudahkanlah untukku urusanku sehingga dakwahku tidak menemui kesulitan, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku yang menghalangi kelancaranku dalam menyampaikan pesan-Mu agar mereka mengerti perkataanku dengan baik.”
Tafsir Lengkap
Musa memohon agar lidahnya fasih dan tidak kelu, sehingga ia lancar dan tegas dalam berbicara, supaya kata-katanya mudah dicerna dan dipahami oleh pendengarnya, hingga mereka memperoleh hidayah Allah. Sebab jika lidah Musa kelu mengakibatkan ia tidak lancar bicaranya.
Para mufassir berbeda pendapat tentang sebab ketidakfasihan (kelunya) lisan Musa, sebagai berikut:
a. Bahwa Musa di waktu kecilnya, ia mencabut selembar rambut dari dagu Fir‘aun, maka marahlah Fir‘aun dan ia berencana untuk melampiaskan kemarahannya itu. Kemudian ia meminta kepada istrinya supaya membawakan balah (kurma mentah) dan se-onggok bara api. Istri Fir‘aun membela Musa dengan mengatakan, “Musa masih kecil, belum tahu apa-apa.” Sekalipun ada pembelaan, tetapi Fir‘aun tetap melaksanakan maksud jahatnya, dan bara itu diletakkan di atas lidah Musa. Sejak itulah lidah Musa menjadi kaku. Oleh karena itu Musa a.s. meminta kepada Allah supaya kekeluan lidahnya itu dihilangkan.
b. Kekeluan lidahnya diakibatkan karena faktor psykologis yang membebani Musa, akibat dari tindakan dan perbuatannya menampar dan membunuh seorang Qibty.
c. Menurut pendapat lain, bahwa kekeluan tersebut akibat bawaan sejak lahir.
وَاجْعَلْ لِّيْ وَزِيْرًا مِّنْ اَهْلِيْ ۙ
Waj‘al lī wazīram min ahlī.
Jadikanlah untukku seorang penolong dari keluargaku,
Ṭāhā - Ayat 29
وَاجْعَلْ لِّيْ وَزِيْرًا مِّنْ اَهْلِيْ ۙ
Latin
Waj‘al lī wazīram min ahlī.
Terjemahan Indonesia
Jadikanlah untukku seorang penolong dari keluargaku,
Tafsir Ringkas
Sesudah memohon penyempurnaan dirinya, Nabi Musa memohon pengukuhan diri melalui keluarganya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku guna meringankan tugasku menyampaikan risalah-Mu. Aku berharap Engkau mengangkat Harun, saudaraku, sebagai penyokongku. Teguhkanlah kekuatanku dalam berdakwah dengan adanya dia di sampingku, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku menyampaikan risalah kepada Fir’aun dan kaumnya.
Tafsir Lengkap
Oleh karena Musa merasa bahwa tugas yang diamanatkan kepadanya cukup besar dan berat, ia meminta supaya Allah mengangkat seorang pembantu dari keluarganya sendiri, untuk bersama-sama melancarkan dakwah, senasib dan sepenanggungan di dalam suka duka yang akan dihadapinya dari kaumnya.
هٰرُوْنَ اَخِى ۙ
Hārūna akhī.
(yaitu) Harun, saudaraku.
Ṭāhā - Ayat 30
هٰرُوْنَ اَخِى ۙ
Latin
Hārūna akhī.
Terjemahan Indonesia
(yaitu) Harun, saudaraku.
Tafsir Ringkas
Sesudah memohon penyempurnaan dirinya, Nabi Musa memohon pengukuhan diri melalui keluarganya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku guna meringankan tugasku menyampaikan risalah-Mu. Aku berharap Engkau mengangkat Harun, saudaraku, sebagai penyokongku. Teguhkanlah kekuatanku dalam berdakwah dengan adanya dia di sampingku, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku menyampaikan risalah kepada Fir’aun dan kaumnya.
Tafsir Lengkap
Ayat ini menerangkan bahwa Musa a.s. mengusulkan agar yang diangkat menjadi pembantunya itu ialah Harun, saudaranya sendiri yang lebih tua dari dia, Musa memilih Harun antara lain karena Harun itu seorang yang saleh, ucapannya fasih, intonasi bicaranya seperti orang Mesir, karena ia banyak bergaul dengan orang-orang Mesir, tempat untuk melaksanakan dakwahnya bersama Musa a.s., Perbuatan Musa ini adalah satu hal yang baik dicontoh dan diteladani, karena seorang pemimpin atau penguasa hendaknya mempunyai pembantu untuk melaksanakan tanggung jawabnya, tetapi tentunya pembantu yang baik yang dapat diandalkan i’tikad baiknya di dalam melaksanakan tugasnya sebagai pembantu. Nabi Muhammad saw sendiri mempunyai pembantu sebagaimana sabdanya:
اِنَّ لِيْ وَزِيْرَيْنِ مِنْ اَهْلِ السَّمَاءِ وَوَزِيْرَيْنِ مِنْ اَهْلِ اْلاَرْضِ فَوَزِيْرَايَ مِنْ اَهْلِ السَّمَاءِ جِبْرِيْلُ وَمِيْكاَئِيْلُ وَوَزِيْرَايَ مِنْ اَهْلِ اْلاَرْضِ اَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ. (رواه الحاكم عن ابى سعيد)
Sesungguhnya saya mempunyai dua pembantu di langit dan dua pembantu di bumi, Adapun dua pembantu saya di langit ialah Jibril dan Mikail, dan dua pembantu saya di bumi Abu Bakar dan Umar. (Riwayat al-Ḥākim dari Abi Sa’īd)
اشْدُدْ بِهٖٓ اَزْرِيْ ۙ
Usydud bihī azrī.
Teguhkanlah kekuatanku dengannya,
Ṭāhā - Ayat 31
اشْدُدْ بِهٖٓ اَزْرِيْ ۙ
Latin
Usydud bihī azrī.
Terjemahan Indonesia
Teguhkanlah kekuatanku dengannya,
Tafsir Ringkas
Sesudah memohon penyempurnaan dirinya, Nabi Musa memohon pengukuhan diri melalui keluarganya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku guna meringankan tugasku menyampaikan risalah-Mu. Aku berharap Engkau mengangkat Harun, saudaraku, sebagai penyokongku. Teguhkanlah kekuatanku dalam berdakwah dengan adanya dia di sampingku, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku menyampaikan risalah kepada Fir’aun dan kaumnya.
Tafsir Lengkap
Musa a.s. memohon kepada Allah, agar dengan ditunjuknya Harun sebagai pembantunya diharapkan dapat meningkatkan kekuatan dan kemampuannya. Juga supaya Harun selalu bersama dengan dia di dalam segala urusannya, bahu membahu di dalam melaksanakan tugasnya yang berat dan suci itu, agar berhasil baik, tidak meleset dari sasaran yang dituju, dan tercapai cita-cita yang diidam-idamkan dengan baik.
وَاَشْرِكْهُ فِيْٓ اَمْرِيْ ۙ
Wa asyrik-hu fī amrī.
dan sertakan dia dalam urusanku (kenabian)
Ṭāhā - Ayat 32
وَاَشْرِكْهُ فِيْٓ اَمْرِيْ ۙ
Latin
Wa asyrik-hu fī amrī.
Terjemahan Indonesia
dan sertakan dia dalam urusanku (kenabian)
Tafsir Ringkas
Sesudah memohon penyempurnaan dirinya, Nabi Musa memohon pengukuhan diri melalui keluarganya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku guna meringankan tugasku menyampaikan risalah-Mu. Aku berharap Engkau mengangkat Harun, saudaraku, sebagai penyokongku. Teguhkanlah kekuatanku dalam berdakwah dengan adanya dia di sampingku, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku menyampaikan risalah kepada Fir’aun dan kaumnya.
Tafsir Lengkap
Musa a.s. memohon kepada Allah, agar dengan ditunjuknya Harun sebagai pembantunya diharapkan dapat meningkatkan kekuatan dan kemampuannya. Juga supaya Harun selalu bersama dengan dia di dalam segala urusannya, bahu membahu di dalam melaksanakan tugasnya yang berat dan suci itu, agar berhasil baik, tidak meleset dari sasaran yang dituju, dan tercapai cita-cita yang diidam-idamkan dengan baik.
كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا ۙ
Kai nusabbiḥaka kaṡīrā(n).
agar kami banyak bertasbih kepada-Mu,
Ṭāhā - Ayat 33
كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا ۙ
Latin
Kai nusabbiḥaka kaṡīrā(n).
Terjemahan Indonesia
agar kami banyak bertasbih kepada-Mu,
Tafsir Ringkas
Ya Allah, aku ajukan permohonan itu kepada-Mu agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, menyucikan-Mu dari segala hal yang tidak layak bagi-Mu, dan banyak mengingat-Mu atas anugerah dan nikmat yang Engkau limpahkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat dan Mengetahui keadaan kami.”
Tafsir Lengkap
Pada ayat-ayat ini Allah menerangkan latar belakang dari permohonan Musa a.s., supaya ia selalu ditemani dan didampingi oleh Harun di dalam mensukseskan tugas kenabiannya, ialah agar dapat banyak bertasbih kepada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya dari sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan yang tidak layak bagi-Nya, seperti pengakuan Fir‘aun yang mengumumkan dirinya sebagai tuhan. Di samping itu, agar dia selalu ingat kepada Allah, serta selalu mengharapkan rida-Nya.
وَّنَذْكُرَكَ كَثِيْرًا ۗ
Wa nażkuraka kaṡīrā(n).
dan banyak berzikir kepada-Mu.
Ṭāhā - Ayat 34
وَّنَذْكُرَكَ كَثِيْرًا ۗ
Latin
Wa nażkuraka kaṡīrā(n).
Terjemahan Indonesia
dan banyak berzikir kepada-Mu.
Tafsir Ringkas
Ya Allah, aku ajukan permohonan itu kepada-Mu agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, menyucikan-Mu dari segala hal yang tidak layak bagi-Mu, dan banyak mengingat-Mu atas anugerah dan nikmat yang Engkau limpahkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat dan Mengetahui keadaan kami.”
Tafsir Lengkap
Pada ayat-ayat ini Allah menerangkan latar belakang dari permohonan Musa a.s., supaya ia selalu ditemani dan didampingi oleh Harun di dalam mensukseskan tugas kenabiannya, ialah agar dapat banyak bertasbih kepada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya dari sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan yang tidak layak bagi-Nya, seperti pengakuan Fir‘aun yang mengumumkan dirinya sebagai tuhan. Di samping itu, agar dia selalu ingat kepada Allah, serta selalu mengharapkan rida-Nya.
اِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيْرًا
Innaka kunta binā baṣīrā(n).
Sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami.”
Ṭāhā - Ayat 35
اِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيْرًا
Latin
Innaka kunta binā baṣīrā(n).
Terjemahan Indonesia
Sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami.”
Tafsir Ringkas
Ya Allah, aku ajukan permohonan itu kepada-Mu agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, menyucikan-Mu dari segala hal yang tidak layak bagi-Mu, dan banyak mengingat-Mu atas anugerah dan nikmat yang Engkau limpahkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat dan Mengetahui keadaan kami.”
Tafsir Lengkap
Pada ayat ini Musa a.s. menandaskan bahwa segala apa yang dimohonkannya kepada Allah, Dia lebih mengetahui hakekat dan tujuannya. Semoga bersama Harun penyebaran agama dapat dilaksanakan dengan baik, lancar, sukses, serta dapat melumpuhkan berbagai usaha dari orang-orang yang sesat dan menyesatkan, dapat membimbing mereka ke jalan yang benar.
قَالَ قَدْ اُوْتِيْتَ سُؤْلَكَ يٰمُوْسٰى
Qāla qad ūtīta su'laka yā mūsā.
(Allah) berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa.
Ṭāhā - Ayat 36
قَالَ قَدْ اُوْتِيْتَ سُؤْلَكَ يٰمُوْسٰى
Latin
Qāla qad ūtīta su'laka yā mūsā.
Terjemahan Indonesia
(Allah) berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa.
Tafsir Ringkas
Mengabulkan permohonan Nabi Musa, Dia berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan semua permintaanmu itu, wahai Musa. Terimalah anugerah besar Kami itu kepadamu.
Tafsir Lengkap
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia telah memperkenankan semua permohonan Musa yaitu supaya dilapangkan dadanya, dimudahkan urusannya dihilangkan kekakuan dan gangguan lidahnya, dijadikan Harun saudaranya sebagai pembantu baginya, sehingga kekuatan dan kemampuannya bertambah, bahu membahu dengan Harun dalam me-laksanakan tugasnya. Sehingga ia banyak membaca tasbih dan senantiasa ingat dan zikir kepada Allah. Enam macam permohonan sebagaimana dalam ayat sebelumnya, diperkenankan oleh Allah demi suksesnya pelaksanaan amanat yang berat dan sulit itu.
وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَيْكَ مَرَّةً اُخْرٰىٓ ۙ
Wa laqad manannā ‘alaika marratan ukhrā.
Sungguh, Kami benar-benar telah memberikan nikmat kepadamu pada kesempatan yang lain (sebelum ini),
Ṭāhā - Ayat 37
وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَيْكَ مَرَّةً اُخْرٰىٓ ۙ
Latin
Wa laqad manannā ‘alaika marratan ukhrā.
Terjemahan Indonesia
Sungguh, Kami benar-benar telah memberikan nikmat kepadamu pada kesempatan yang lain (sebelum ini),
Tafsir Ringkas
Dan wahai Musa, ketahuilah bahwa sesungguhnya tanpa engkau minta pun, Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kesempatan yang lain sebelum ini, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesudah kelahiranmu sesuatu yang diilhamkan, yaitu cara menyelamatkanmu dari rencana keji Fir’aun.
Tafsir Lengkap
Pada ayat ini diungkapkan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada Musa beberapa nikmat yang dianugerahkan tanpa permohonan, jauh sebelum Musa memajukan permohonan di atas. Kalau Allah telah berkenan atas kemurahan-Nya memberi Musa banyak nikmat sejak kecilnya tanpa permohonan lebih dahulu, maka setelah Musa memohonkan beberapa hal yang sangat diperlukan untuk memperlancar jalan dakwahnya, menuju sasaran yang ditujunya, tentulah Allah akan memperkenankan permohonannya itu. Delapan karunia telah diberikan kepada Musa sejak kecilnya.
اِذْ اَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّكَ مَا يُوْحٰىٓ ۙ
Iż auḥainā ilā ummika mā yūḥā.
(yaitu) ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan.
Ṭāhā - Ayat 38
اِذْ اَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّكَ مَا يُوْحٰىٓ ۙ
Latin
Iż auḥainā ilā ummika mā yūḥā.
Terjemahan Indonesia
(yaitu) ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan.
Tafsir Ringkas
Dan wahai Musa, ketahuilah bahwa sesungguhnya tanpa engkau minta pun, Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kesempatan yang lain sebelum ini, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesudah kelahiranmu sesuatu yang diilhamkan, yaitu cara menyelamatkanmu dari rencana keji Fir’aun.
Tafsir Lengkap
Ayat ini mengingatkan bahwa ketika Allah akan menganugerahkan delapan macam karunia kepada Nabi Musa a.s., maka Allah memberi ilham kepada ibu Musa di antaranya memberitahukan dan mengajarkan ibu Musa bagaimana caranya menyelamatkan anaknya dari kezaliman Fir‘aun, yang memerintahkan tentaranya untuk membunuh semua bayi laki-laki yang ada di bawah kekuasaannya dibunuh semuanya.
اَنِ اقْذِفِيْهِ فِى التَّابُوْتِ فَاقْذِفِيْهِ فِى الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّيْ وَعَدُوٌّ لَّهٗ ۗوَاَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّيْ ەۚ وَلِتُصْنَعَ عَلٰى عَيْنِيْ ۘ
Aniqżifīhi fit-tābūti faqżifīhi fil-yammi falyulqihil-yammu bis-sāḥili ya'khużhu ‘aduwwul lī wa ‘aduwwul lah(ū), wa alqaitu ‘alaika maḥabbatam minnī, wa lituṣna‘a ‘alā ‘ainī.
(Ilham itu adalah perintah Kami kepada ibumu,) ‘Letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Maka, biarlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi. Dia akan diambil oleh (Fir‘aun) musuh-Ku dan musuhnya.’ Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang dari-Ku467) dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.
Ṭāhā - Ayat 39
اَنِ اقْذِفِيْهِ فِى التَّابُوْتِ فَاقْذِفِيْهِ فِى الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّيْ وَعَدُوٌّ لَّهٗ ۗوَاَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّيْ ەۚ وَلِتُصْنَعَ عَلٰى عَيْنِيْ ۘ
Latin
Aniqżifīhi fit-tābūti faqżifīhi fil-yammi falyulqihil-yammu bis-sāḥili ya'khużhu ‘aduwwul lī wa ‘aduwwul lah(ū), wa alqaitu ‘alaika maḥabbatam minnī, wa lituṣna‘a ‘alā ‘ainī.
Terjemahan Indonesia
(Ilham itu adalah perintah Kami kepada ibumu,) ‘Letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Maka, biarlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi. Dia akan diambil oleh (Fir‘aun) musuh-Ku dan musuhnya.’ Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang dari-Ku467) dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.
Catatan Kaki
467) Setiap orang yang memandang Nabi Musa a.s. akan merasakan cinta, kasih, dan sayang kepadanya.
Tafsir Ringkas
Kami ilhamkan kepada ibumu, ‘Letakkanlah dia, yaitu bayi Musa, di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai Nil yang mengalir tidak begitu deras. Ketika arus menghanyutkannya, maka biarlah aliran air sungai itu membawanya ke tepi sungai yang melewati istana Fir’aun. Ketika saat itu tiba, dia akan diambil oleh Fir’aun, penguasa Mesir yang merupakan musuh-Ku dan musuhnya. ‘Wahai Nabi Musa, ketahuilah bahwa Aku telah melimpahkan kepadamu begitu banyak kasih sayang yang datang dari-Ku sehingga siapa saja yang memandangmu akan tertarik dan menyayangimu. Kami anugerahkan itu semua kepadamu untuk kebaikanmu dan agar engkau diasuh dengan cara terhormat di bawah pengawasan-Ku.
Tafsir Lengkap
Ketika ibu Musa dalam keadaan panik, maka ia diperintahkan Allah supaya menaruh anaknya di dalam peti yang dibuat rapi dan kuat, kemudian melemparkannya ke sungai Nil. Perintah ini dilaksanakan oleh Ibu Musa dengan segera yang akhirnya peti itu jatuh ke tangan Fir‘aun, musuh Allah dan musuh Musa sendiri pada waktu mendatang.
Diriwayatkan bahwa pada suatu senja Fir‘aun dan istrinya duduk santai di tepi sungai Nil, tiba-tiba terlihat olehnya sebuah peti tidak jauh dari tempatnya. Disuruhnyalah dayang-dayangnya mengambil peti itu dan membawanya ke hadapannya. Ketika peti itu dibuka kelihatanlah seorang bayi laki-laki yang rupawan. Alangkah senangnya istri Fir‘aun melihat bayi itu. Kasih sayang dan cintanya pun kepada bayi itu sangat mendalam. Maka diambilnyalah bayi itu dan dipelihara serta dididik di istananya. Inilah karunia yang pertama. Karunia yang kedua ialah, bahwa Allah telah melimpahkan kasih sayang yang tulus kepada Musa dan kasih itu telah ditanamkan ke dalam setiap hati orang. Siapapun yang memandang kepada Musa akan merasa kasih sayang kepadanya. Jadi tidak heran kalau Fir‘aun dan istrinya merasa sayang dan cinta kepada Musa, sehingga isterinya berkata kepada suaminya, sebagaimana tercantum di dalam Al-Qur’an:
وَقَالَتِ امْرَاَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّيْ وَلَكَۗ لَا تَقْتُلُوْهُ ۖعَسٰٓى اَنْ يَّنْفَعَنَآ اَوْ نَتَّخِذَهٗ وَلَدًا وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ٩
Dan istri Fir‘aun berkata, “(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak,” sedang mereka tidak menyadari. (al-Qaṣaṣ/ 28: 9)
Karunia ketiga ialah diasuhnya Musa di istana Fir‘aun di bawah pengawasan dan pengamatan Allah serta dijaganya dari segala hal yang akan mengganggunya, ketika ia diasuh oleh keluarga Fir‘aun manusia kejam yang tidak mengenal perikemanusiaan itu.
اِذْ تَمْشِيْٓ اُخْتُكَ فَتَقُوْلُ هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى مَنْ يَّكْفُلُهٗ ۗفَرَجَعْنٰكَ اِلٰٓى اُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ ەۗ وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنٰكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنّٰكَ فُتُوْنًا ەۗ فَلَبِثْتَ سِنِيْنَ فِيْٓ اَهْلِ مَدْيَنَ ەۙ ثُمَّ جِئْتَ عَلٰى قَدَرٍ يّٰمُوْسٰى
Iż tamsyī ukhtuka fa taqūlu hal adullukum ‘alā may yakfuluh(ū), fa raja‘nāka ilā ummika kai taqarra ‘ainuhā wa lā taḥzan(a), wa qatalta nafsan fa najjaināka minal-gammi wa fatannāka futūnā(n), fa labiṡta sinīna fī ahli madyan(a), ṡumma ji'ta ‘alā qadariy yā mūsā.
Ketika saudara perempuanmu berjalan (untuk mengawasi dan mengetahui berita), dia berkata (kepada keluarga Fir‘aun), ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?’ Maka, Kami mengembalikanmu kepada ibumu agar senang hatinya dan tidak bersedih. Engkau pernah membunuh seseorang (tanpa sengaja)468) lalu Kami selamatkan engkau dari kesulitan (yang besar) dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (yang berat). Lalu, engkau tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan,469) kemudian engkau, wahai Musa, datang menurut waktu yang ditetapkan.
Ṭāhā - Ayat 40
اِذْ تَمْشِيْٓ اُخْتُكَ فَتَقُوْلُ هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى مَنْ يَّكْفُلُهٗ ۗفَرَجَعْنٰكَ اِلٰٓى اُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ ەۗ وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنٰكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنّٰكَ فُتُوْنًا ەۗ فَلَبِثْتَ سِنِيْنَ فِيْٓ اَهْلِ مَدْيَنَ ەۙ ثُمَّ جِئْتَ عَلٰى قَدَرٍ يّٰمُوْسٰى
Latin
Iż tamsyī ukhtuka fa taqūlu hal adullukum ‘alā may yakfuluh(ū), fa raja‘nāka ilā ummika kai taqarra ‘ainuhā wa lā taḥzan(a), wa qatalta nafsan fa najjaināka minal-gammi wa fatannāka futūnā(n), fa labiṡta sinīna fī ahli madyan(a), ṡumma ji'ta ‘alā qadariy yā mūsā.
Terjemahan Indonesia
Ketika saudara perempuanmu berjalan (untuk mengawasi dan mengetahui berita), dia berkata (kepada keluarga Fir‘aun), ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?’ Maka, Kami mengembalikanmu kepada ibumu agar senang hatinya dan tidak bersedih. Engkau pernah membunuh seseorang (tanpa sengaja)468) lalu Kami selamatkan engkau dari kesulitan (yang besar) dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (yang berat). Lalu, engkau tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan,469) kemudian engkau, wahai Musa, datang menurut waktu yang ditetapkan.
Catatan Kaki
468) Yang terbunuh adalah seorang bangsa Qibti yang sedang berkelahi dengan seorang Bani Israil sebagaimana yang dikisahkan dalam surah al-Qaṣaṣ (28): 15.
469) Nabi Musa a.s. melarikan diri dari Mesir ke Madyan. Di sana dia dinikahkan oleh Syekh Madyan dengan salah seorang putrinya dan menetap beberapa tahun lamanya.
Tafsir Ringkas
Wahai Nabi Musa, ingatlah ketika saudara perempuanmu berjalan di sekitar istana tempat engkau berada setelah dipungut dari sungai, untuk mencari berita tentang dirimu. Ketika ia tahu engkau enggan menyusu, lalu dia berkata kepada keluarga Fir’aun, ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan menyusui dan memeliharanya?’ Mereka setuju, lalu saudaramu mengajak ibumu untuk menyusuimu. Maka, Kami mengembalikanmu kepada ibumu agar senang hatinya karena dapat memeliharamu dan tidak bersedih hati karena jauh darimu. Dan ingatlah wahai Nabi Musa pada anugerah Kami yang lain, yaitu ketika engkau setelah menginjak dewasa pernah membunuh seseorang dari penduduk Mesir, lalu Kami selamatkan engkau dari kesulitan yang menimpamu akibat pembunuhan itu. Kami keluarkan engkau dari Mesir dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan yang berat di tempat tinggalmu yang baru. Dengan rahmat Kami engkau berhasil mengatasinya, lalu engkau tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan dan menjadi menantu Nabi Syuaib. Kemudian saat ini engkau, wahai NabiMusa, datang ke tempat ini menurut waktu yang telah ditetapkan oleh Allah.
Tafsir Lengkap
Ketika Musa berada di bawah asuhan keluarga Fir‘aun, mereka sibuk mencari wanita yang akan menyusukannya. Setiap wanita yang telah ditunjuk untuk menyusukannya, Musa tidak mau menyusu kepadanya. Ini adalah satu petunjuk dari Allah :
وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِنْ قَبْلُ
Dan Kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu. (al-Qaṣaṣ/28: 12)
Sebelum mereka menemukan perempuan yang Musa mau menyusu kepadanya, datanglah Maryam saudara perempuan Musa yang disuruh oleh ibunya mengikuti peti adiknya secara diam-diam dan menawarkan kepada keluarga Fir‘aun perempuan yang akan menyusukan Musa dan mengasuhnya sebagaimana dikisahkan di dalam firman Allah:
هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰٓى اَهْلِ بَيْتٍ يَّكْفُلُوْنَهٗ لَكُمْ وَهُمْ لَهٗ نٰصِحُوْنَ
“Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?” (al- Qaṣaṣ/28: 12)
Tawaran Maryam itu diterima dengan baik oleh keluarga Fir‘aun, maka didatangkanlah ibunya, yaitu ibu Musa sendiri, dan menyusulah Musa kepada ibunya. Dengan demikian Musa kembali diasuh oleh ibunya sendiri dan hilanglah kecemasan dan duka cita ibunya, bahkan alangkah senang hatinya memandang anaknya di dalam keadaan selamat, segar dan bugar. Ini adalah karunia yang keempat. Karunia yang kelima, yaitu ketika Musa memasuki negeri Manūf, negeri Fir‘aun, di siang hari yang sedang sepi karena penduduknya sedang istirahat. Dilihatnya ada dua orang berkelahi, yang satu dari Bani Israil yaitu golongannya, dan yang satu lagi bangsa Kibti dari golongan Fir‘aun, bahkan ia adalah tukang masak Fir‘aun. Ketika Bani Israil itu minta tolong, Musa lalu meninju lawan musuh Bani Israil itu. Di luar dugaan, akibat dari tinju Musa, orang Kibti itu meninggal dunia. Atas kejadian yang tidak disengaja itu, Musa merasa cemas dan takut, sebagaimana dikisahkan di dalam firman Allah:
فَاَصْبَحَ فِى الْمَدِيْنَةِ خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ
Karena itu, dia (Musa) menjadi ketakutan berada di kota itu sambil menunggu (akibat perbuatannya). (al-Qaṣaṣ/28: 18)
Ketika peristiwa itu diketahui Fir‘aun, dia sangat marah dan berusaha membunuh Musa. Kemarahan dan niat jahat Fir‘aun ini diberitahukan kepada Musa oleh seorang dari golongan Fir‘aun yang telah beriman kepada Musa, maka pergilah Musa menghindar sampai ke negeri Madyan. Dengan demikian selamatlah ia dari penganiayaan Fir‘aun. Musa tidak saja diselamatkan dari penganiayaan dan pembunuhan di dunia ini, tetapi juga selamat dari azab akhirat, karena dosa orang yang membunuh dengan tidak sengaja telah diampuni oleh Allah, atas doanya, sebagaimana dikisahkan Allah di dalam firman-Nya:
قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَغَفَرَ لَهٗ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ١٦
Dia (Musa) berdo’a, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (al-Qaṣaṣ/28: 16)
Allah memberikan cobaan yang bertubi-tubi kepada Musa, untuk mengetahui sampai di mana ketahanan mental Musa, sebagaimana lazimnya seseorang yang dipersiapkan untuk menerima kerasulan dari Allah, tetapi semuanya itu dapat dilaluinya dengan selamat, seperti diselamatkannya Musa dari penyembelihan bayi secara masal atas perintah Fir‘aun, diselamatkannya ketika ia hendak dibunuh oleh Fir‘aun karena ia mencabut jenggot Fir‘aun, Musa dibela oleh istri Fir‘aun dengan alasan dia masih kecil, belum dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, maka redalah kemarahan Fir‘aun dan selamatlah Musa dari pembunuhan Fir‘aun dan berbagai cobaan lainnya. Ini karunia yang keenam.
Karunia ketujuh yaitu pelarian Musa ke Madyan, ia tinggal lama di sana, lebih kurang sepuluh tahun. Pada mulanya mengalami hidup yang pahit di tengah-tengah penduduk negeri Madyan, merasakan pedihnya hidup sebagai seorang pendatang yang membutuhkan banyak keperluan. Akhirnya terpaksa ia menjadi buruh, menggembalakan kambing mertuanya, untuk mendapat imbalan sekedarnya, guna menutupi keperluannya, yang kemudian dinikahkan dengan Safūra putri Syekh Madyan. Demikianlah Musa, sampai ia mencapai umur yang telah ditentukan, tidak lebih dan tidak kurang untuk dijadikan rasul, yaitu ketika ia mencapai umur empat puluh tahun.