An-Najm
النّجم
Bintang | 62 Ayat | Makkiyah
وَالنَّجْمِ اِذَا هَوٰىۙ
Wan-najmi iżā hawā.
Demi bintang ketika terbenam,
An-Najm - Ayat 1
وَالنَّجْمِ اِذَا هَوٰىۙ
Latin
Wan-najmi iżā hawā.
Terjemahan Indonesia
Demi bintang ketika terbenam,
Tafsir Ringkas
Surah at-Tur diakhiri dengan perintah untuk bertasbih dan memuji Allah setiap saat, terutama pagi. Pada Surah an-Najm ini Allah memulai dengan bersumpah demi bintang. Demi bintang yang bertebaran di angkasa ketika hendak terbenam akibat terbitnya matahari di ufuk timur dengan sinarnya yang kuat.
Tafsir Lengkap
Allah swt menerangkan bahwa Ia bersumpah dengan makhluk-Nya yang besar yakni bintang yang beredar pada porosnya, sehingga tidak saling berbenturan satu dengan yang lainnya. Bintang-bintang itu merupakan petunjuk bagi manusia dalam hutan dan di padang pasir, di tempat kediaman dan dalam perjalanan, di kampung dan di kota, dan juga di lautan, bintang-bintang itu besar sekali faedahnya bagi kehidupan manusia.
Allah swt mengarahkan sumpah-Nya kepada kaum musyrikin agar mengetahui betapa banyak manfaatnya bintang-bintang bagi mereka. Antara lain untuk mengetahui perubahan musim agar mereka bersiap-siap untuk menggembalakan ternak mereka, kemudian setelah turun hujan mereka dapat menanam tanaman yang sesuai dengan musimnya.
Sumpah Allah tersebut mengingatkan manusia bahwa di sana ada benda-benda yang perkasa di ruang angkasa yang harus mereka ketahui, agar mereka dapat meyakini besarnya sumber kekuasaan Allah dan indahnya ciptaan-Nya.
Ilmu pengetahuan modern telah menerangkan bahwa di angkasa raya ada keajaiban yang dapat dilihat dari cepatnya peredaran dan bentuknya yang besar.
Alam matahari terdiri dari matahari dan 9 buah planet yang kebanyakan dikelilingi oleh beberapa buah bulan. Matahari itu dalam alamnya adalah sebagian daripada alam angkasa. Di alam angkasa ada sekitar 30.000.000.000 (tigapuluh miliar) bintang. Setiap bintang adalah sebagai matahari seperti mataharinya manusia di bumi ini. Ada yang lebih besar dan ada pula yang lebih kecil daripadanya. Umur matahari adalah sekitar lima milyar tahun, umur bumi sekitar 2.000 juta tahun. Umur air di atas bumi sekitar 300 juta tahun. Dan umur manusia sekitar 300.000 tahun.
Dan alam semesta itu mempunyai penjaga (hanya Allah-lah yang mengetahuinya). Dan tidak seorang pun yang mengetahui bala tentara Tuhan kecuali Dia.
Al-‘Amasy dari Mujāhid mengatakan bahwa ayat ini merujuk pada Al-Qur’an ketika diturunkan seperti dalam firman-Nya:
فَلَآ اُقْسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجُوْمِ ٧٥ وَاِنَّهٗ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُوْنَ عَظِيْمٌۙ ٧٦ اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ ٧٧ فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ ٧٨ لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَۙ ٧٩ تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ ٨٠
Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui, dan (ini) sesungguhnya Al-Qur’an yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauḥ Maḥfūẓ), tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan seluruh alam. (al-Wāqi‘ah/56: 75-80)
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوٰىۚ
Mā ḍalla ṣāḥibukum wa mā gawā.
kawanmu (Nabi Muhammad) tidak sesat, tidak keliru,
An-Najm - Ayat 2
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوٰىۚ
Latin
Mā ḍalla ṣāḥibukum wa mā gawā.
Terjemahan Indonesia
kawanmu (Nabi Muhammad) tidak sesat, tidak keliru,
Tafsir Ringkas
Sesungguhnya kawanmu yang sangat kamu kenal kejujurannya, yaitu Nabi Muhammad, tidak sesat dalam perilakunya saat menyampaikan dakwah dan tidak pula keliru dalam ucapan-ucapan yang disampaikannya.
Tafsir Lengkap
Allah menerangkan bahwa kawan mereka itu (Muhammad) adalah benar-benar seorang nabi. Dia tidak pernah menyimpang dari jalan yang benar dan juga tidak pernah melakukan kebatilan.
Pada kenyataannya Rasulullah saw adalah seorang rasul yang diberi petunjuk oleh Allah, dia mengikuti kebenaran. Dia bukan seorang yang menyesatkan (dan ia tidak berjalan pada jalan yang ia sendiri tidak mengetahuinya). Dia bukan seorang yang sesat yang berpaling dari kebenaran dengan suatu tujuan tertentu. Keadaan beliau yang seperti itu, bukan saja setelah beliau diangkat menjadi rasul, tetapi juga sebelumnya. Oleh sebab itulah Allah memberikan kepadanya petunjuk dan syariat untuk memberikan sinar terang kepada orang-orang yang sesat baik Yahudi maupun Nasrani yang sebenarnya mereka mengetahui kebenaran itu, tetapi tidak mengamalkannya.
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى
Wa mā yanṭiqu ‘anil-hawā.
dan tidak pula berucap (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa nafsu(-nya).
An-Najm - Ayat 3
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى
Latin
Wa mā yanṭiqu ‘anil-hawā.
Terjemahan Indonesia
dan tidak pula berucap (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa nafsu(-nya).
Tafsir Ringkas
Apa saja yang dilakukan oleh Nabi Muhammad merupakan perintah Tuhannya, dan tidaklah pula yang diucapkannya itu, yaitu ayat-ayat Al-Qur’an, merupakan perkataan kosong dan menurut keinginannya saja.
Tafsir Lengkap
Dalam ayat ini Allah swt menerangkan bahwa Muhammad saw itu tidak sesat dan tidak keliru karena beliau seorang yang tidak pernah menuruti hawa nafsunya termasuk dalam perkataannya. Orang yang mungkin keliru atau tersesat ialah orang yang menuruti hawa nafsunya. Sebagaimana firman Allah:
وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ
Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. (Ṣād/38: 26)
اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ
In huwa illā waḥyuy yūḥā.
Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya)
An-Najm - Ayat 4
اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ
Latin
In huwa illā waḥyuy yūḥā.
Terjemahan Indonesia
Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya)
Tafsir Ringkas
Al-Qur’an yang disampaikannya tidak lain adalah wahyu Allah yang diwahyukan kepadanya.
Tafsir Lengkap
Dalam ayat ini, Allah menguatkan ayat sebelumnya, yakni bahwa Muhammad saw hanyalah mengatakan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk disampaikan kepada manusia secara sempurna, tidak ditambah-tambah dan tidak pula dikurangi menurut apa yang diwahyukan kepadanya.
‘Abdullāh bin ‘Amr bin ‘Aṣ menulis setiap apa yang ia dengar dari Rasulullah saw, karena ia mau menghafalkannya. Tapi orang-orang Quraisy melarangnya. Mereka mengatakan mengapa ia menulis setiap perkataan Muhammad saw, sedangkan Muhammad itu adalah manusia biasa yang berkata dalam keadaan marah. Maka berhentilah Abdullah bin Umar menulis. Kemudian ia mendatangi Rasulullah saw, dan memberitahukan perihalnya itu. Maka bersabdalah Rasulullah saw:
اُكْتُبْ فَوَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنِّيْ اِلَّا الْحَقُّ. (رواه أحمد وأبوداود)
“Tulislah demi Zat yang menguasai diriku, tidak ada yang keluar dari perkataanku kecuali kebenaran.” (Riwayat Aḥmad dan Abū Dāwud)
Al-Ḥāfiẓ, Abu Bakar al-Bazzār menyebutkan riwayat Abu Hurairah bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda:
مَا أَخْبَرْتُكُمْ اَنَّهُ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ فَهُوَ الَّذِيْ لَا شَكَّ فِيْهِ. (رواه ابن حبان والبزار)
“Sesuatu yang aku kabarkan kepadamu bahwa ia dari Allah swt, maka tidak ada keraguan padanya.” (Riwayat Ibnu Ḥibbān dan al-Bazzār)
Dari Yunus, Laiṣ, Muhammad bin Said bin Abu Said, dari Abu Hurairah mereka berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا اَقُوْلُ إِلَّاحَقًّا. (رواه أحمد والبزار)
“Tidaklah aku berkata kecuali yang benar.” (Riwayat Aḥmad dan al-Bazzar)
عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰىۙ
‘Allamahū syadīdul-quwā.
yang diajarkan kepadanya oleh (malaikat) yang sangat kuat (Jibril)
An-Najm - Ayat 5
عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰىۙ
Latin
‘Allamahū syadīdul-quwā.
Terjemahan Indonesia
yang diajarkan kepadanya oleh (malaikat) yang sangat kuat (Jibril)
Tafsir Ringkas
Wahyu yang diterimanya diajarkan kepadanya oleh Jibril, malaikat yang sangat kuat,
Tafsir Lengkap
Dalam ayat ini Allah swt menerangkan bahwa Muhammad saw (kawan mereka itu) diajari oleh Jibril. Jibril itu sangat kuat, baik ilmunya maupun amalnya. Dalam firman Allah dijelaskan:
اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ ١٩ ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ ٢٠ مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ ٢١
Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy, yang di sana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya. (at-Takwīr/81: 19-21)
Kemudian Muhammad saw mempelajarinya dan mengamalkannya. Ayat ini merupakan jawaban dari perkataan mereka yang mengatakan bahwa Muhammad saw itu hanyalah tukang dongeng yang mendongengkan dongeng-dongeng (legenda-legenda) orang-orang dahulu.
Dari sini jelas bahwa Muhammad saw itu bukan diajari oleh seorang manusia, tapi ia diajari oleh malaikat Jibril yang sangat kuat.
ذُوْ مِرَّةٍۗ فَاسْتَوٰىۙ
Żū mirrah(tin), fastawā.
lagi mempunyai keteguhan. Lalu, ia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli
An-Najm - Ayat 6
ذُوْ مِرَّةٍۗ فَاسْتَوٰىۙ
Latin
Żū mirrah(tin), fastawā.
Terjemahan Indonesia
lagi mempunyai keteguhan. Lalu, ia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli
Tafsir Ringkas
yang mempunyai keteguhan sangat hebat; maka ia menampakkan diri kepada Nabi Muhammad dengan rupa yang asli, yakni bagus dan perkasa.i.
Tafsir Lengkap
Allah swt menerangkan dalam ayat ini, bahwa Jibril itu mempunyai kekuatan yang luar biasa. Seperti dalam riwayat bahwa ia pernah membalikkan perkampungan Nabi Lut kemudian mereka diangkat ke langit lalu dijatuhkan ke bumi. Ia pernah menghembus kaum Ṡamūd hingga berterbangan. Dan apabila ia turun ke bumi hanya dibutuhkan waktu sekejap mata. Lagi pula ia dapat berubah bentuk menjadi seperti manusia.
وَهُوَ بِالْاُفُقِ الْاَعْلٰىۗ
Wa huwa bil-ufuqil-a‘lā.
ketika dia berada di ufuk yang tinggi.
An-Najm - Ayat 7
وَهُوَ بِالْاُفُقِ الْاَعْلٰىۗ
Latin
Wa huwa bil-ufuqil-a‘lā.
Terjemahan Indonesia
ketika dia berada di ufuk yang tinggi.
Tafsir Ringkas
Sedang dia, yaitu Jibril, pada saat itu berada di ufuk langit yang tinggi.
Tafsir Lengkap
Setelah itu Muhammad saw melihat Jibril di tempat yang tinggi. Kemudian Jibril memenuhi angkasa itu, lalu mendekati Muhammad saw dan Jibril semakin mendekat lagi kepada Muhammad saw hingga jaraknya kira-kira hampir dua ujung busur panah lagi atau lebih dekat lagi.
ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰىۙ
Ṡumma danā fa tadallā.
Dia kemudian mendekat (kepada Nabi Muhammad), lalu bertambah dekat,
An-Najm - Ayat 8
ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰىۙ
Latin
Ṡumma danā fa tadallā.
Terjemahan Indonesia
Dia kemudian mendekat (kepada Nabi Muhammad), lalu bertambah dekat,
Tafsir Ringkas
Kemudian dia mendekat ke arah Nabi Muhammad, lalu turun sehingga bertambah dekat lagi.
Tafsir Lengkap
Setelah itu Muhammad saw melihat Jibril di tempat yang tinggi. Kemudian Jibril memenuhi angkasa itu, lalu mendekati Muhammad saw dan Jibril semakin mendekat lagi kepada Muhammad saw hingga jaraknya kira-kira hampir dua ujung busur panah lagi atau lebih dekat lagi.
فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ اَوْ اَدْنٰىۚ
Fa kāna qāba qausaini au adnā.
sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi).
An-Najm - Ayat 9
فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ اَوْ اَدْنٰىۚ
Latin
Fa kāna qāba qausaini au adnā.
Terjemahan Indonesia
sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi).
Tafsir Ringkas
Jibril semakin mendekat sehingga jaraknya dari Nabi Muhammad sekitar dua busur panah atau bahkan lebih dekat lagi.
Tafsir Lengkap
Setelah itu Muhammad saw melihat Jibril di tempat yang tinggi. Kemudian Jibril memenuhi angkasa itu, lalu mendekati Muhammad saw dan Jibril semakin mendekat lagi kepada Muhammad saw hingga jaraknya kira-kira hampir dua ujung busur panah lagi atau lebih dekat lagi.
فَاَوْحٰىٓ اِلٰى عَبْدِهٖ مَآ اَوْحٰىۗ
Fa auḥā ilā ‘abdihī mā auḥā.
Lalu, dia (Jibril) menyampaikan wahyu kepada hamba-Nya (Nabi Muhammad) apa yang Dia wahyukan.
An-Najm - Ayat 10
فَاَوْحٰىٓ اِلٰى عَبْدِهٖ مَآ اَوْحٰىۗ
Latin
Fa auḥā ilā ‘abdihī mā auḥā.
Terjemahan Indonesia
Lalu, dia (Jibril) menyampaikan wahyu kepada hamba-Nya (Nabi Muhammad) apa yang Dia wahyukan.
Tafsir Ringkas
Lalu disampaikan oleh-nya wahyu secara cepat dan rahasia kepada hamba-Nya, yaitu Nabi Muhammad, apa yang telah diwahyukan oleh Allah.
Tafsir Lengkap
Selanjutnya diterangkan bahwa setelah Nabi Muhammad saw sudah berdekatan benar dengan Jibril, Jibril menyampaikan wahyu Allah mengenai persoalan-persoalan agama.
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَاٰى
Mā każabal-fu'ādu mā ra'ā.
Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
An-Najm - Ayat 11
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَاٰى
Latin
Mā każabal-fu'ādu mā ra'ā.
Terjemahan Indonesia
Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
Tafsir Ringkas
Hatinya, yaitu hati Nabi Muhammad, meyakini dan tidak mendusta-kan atau mengingkari apa yang telah dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Tafsir Lengkap
Ayat ini menerangkan bahwa kebanyakan manusia menyangka bahwa ia telah menggambarkan apa yang dilihatnya, padahal hatinya belum yakin terhadap apa yang telah ia lihat, tidak demikian penglihatan dan keyakinan Muhammad saw terhadap Jibril meskipun kedatangannya kepada Muhammad saw kerap kali berbeda bentuknya, karena Muhammad saw telah mengetahui bentuk yang aslinya.
Karena Allah swt menguatkan keterangan bahwa kedatangan Jibril menyamar dalam bentuk seorang sahabat yang bernama Dihyah al-Kalbi tidaklah menghilangkan ciri-cirinya karena Muhammad saw pernah melihat bentuknya yang asli sebelum itu, yaitu di Gua Hira ketika menerima wahyu pertama, walaupun kemudian Jibril menampakkan diri lagi dengan rupa yang lain.
اَفَتُمٰرُوْنَهٗ عَلٰى مَا يَرٰى
Afa tumārūnahū ‘alā mā yarā.
Apakah kamu (kaum musyrik Makkah) hendak membantahnya (Nabi Muhammad) tentang apa yang dilihatnya itu (Jibril)?
An-Najm - Ayat 12
اَفَتُمٰرُوْنَهٗ عَلٰى مَا يَرٰى
Latin
Afa tumārūnahū ‘alā mā yarā.
Terjemahan Indonesia
Apakah kamu (kaum musyrik Makkah) hendak membantahnya (Nabi Muhammad) tentang apa yang dilihatnya itu (Jibril)?
Tafsir Ringkas
Maka, wahai kaum musyrik, apakah kamu dan orang yang meragukannya hendak membantahnya tentang apa, yaitu Jibril, yang telah dilihatnya itu?
Tafsir Lengkap
Dalam ayat ini, Allah bertanya apakah orang-orang Quraisy akan mendustakan dan membantah Muhammad saw mengenai bentuk Jibril yang telah pernah dilihat Muhammad saw dengan mata kepalanya sendiri.
وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ
Wa laqad ra'āhu nazlatan ukhrā.
Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain,
An-Najm - Ayat 13
وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ
Latin
Wa laqad ra'āhu nazlatan ukhrā.
Terjemahan Indonesia
Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain,
Tafsir Ringkas
Dan sungguh, dia, yaitu Nabi Muhammad, telah melihatnya, yakni Jibril, dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain,
Tafsir Lengkap
Selanjutnya dalam ayat-ayat ini Allah menerangkan bahwa sesungguhnya Muhammad saw pernah melihat Jibril (untuk kedua kalinya) dalam rupanya yang asli pada waktu melakukan mi‘raj ke Sidratul Muntaha yaitu suatu tempat yang merupakan batas alam yang dapat diketahui oleh para malaikat.
Ada yang berpendapat bahwa maksud ayat ini adalah seperti dalam firman Allah:
وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰىۙ ٤٢
Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu). (an- Najm/53: 42)
Setiap Mukmin wajib mempercayai bahwa Sidratul Muntaha itu sebagaimana yang telah diterangkan oleh Allah dalam ayat-Nya. Tetapi ia tidak boleh menerangkan tempatnya dan sifat-sifatnya, dengan keterangan yang melebihi daripada apa yang telah diterangkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, kecuali bila keterangan itu kita dapat dari hadis Nabi Muhammad saw yang
menerangkan kepada kita dengan jelas dan pasti, karena hal itu termasuk dalam hal yang gaib yang belum diizinkan kita untuk mengetahuinya.
Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Aḥmad, Muslim, at-Tirmīzī, dan lain-lainnya bahwa Sidratul Muntaha itu ada di langit yang ketujuh.
عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى
‘Inda sidratil-muntahā.
(yaitu ketika) di Sidratulmuntaha.
An-Najm - Ayat 14
عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى
Latin
‘Inda sidratil-muntahā.
Terjemahan Indonesia
(yaitu ketika) di Sidratulmuntaha.
Tafsir Ringkas
yaitu di Sidratul Muntaha saat mikraj.
Tafsir Lengkap
Selanjutnya dalam ayat-ayat ini Allah menerangkan bahwa sesungguhnya Muhammad saw pernah melihat Jibril (untuk kedua kalinya) dalam rupanya yang asli pada waktu melakukan mi‘raj ke Sidratul Muntaha yaitu suatu tempat yang merupakan batas alam yang dapat diketahui oleh para malaikat.
Ada yang berpendapat bahwa maksud ayat ini adalah seperti dalam firman Allah:
وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰىۙ ٤٢
Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu). (an- Najm/53: 42)
Setiap Mukmin wajib mempercayai bahwa Sidratul Muntaha itu sebagaimana yang telah diterangkan oleh Allah dalam ayat-Nya. Tetapi ia tidak boleh menerangkan tempatnya dan sifat-sifatnya, dengan keterangan yang melebihi daripada apa yang telah diterangkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, kecuali bila keterangan itu kita dapat dari hadis Nabi Muhammad saw yang
menerangkan kepada kita dengan jelas dan pasti, karena hal itu termasuk dalam hal yang gaib yang belum diizinkan kita untuk mengetahuinya.
Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Aḥmad, Muslim, at-Tirmīzī, dan lain-lainnya bahwa Sidratul Muntaha itu ada di langit yang ketujuh.
عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ
‘Indahā jannatul-ma'wā.
Di dekatnya ada surga tempat tinggal.
An-Najm - Ayat 15
عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ
Latin
‘Indahā jannatul-ma'wā.
Terjemahan Indonesia
Di dekatnya ada surga tempat tinggal.
Tafsir Ringkas
Di dekatnya, yakni dekat Sidratul Muntaha, ada surga yang menjadi tempat tinggal.
Tafsir Lengkap
Dalam ayat ini Allah swt menerangkan bahwa di tempat itulah (di dekat Sidratul Muntaha) letak surga. Ia merupakan tempat tinggal bagi orang-orang yang takwa dan orang-orang yang mati syahid.
اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ
Iż yagsyas-sidrata mā yagsyā.
(Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.
An-Najm - Ayat 16
اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ
Latin
Iż yagsyas-sidrata mā yagsyā.
Terjemahan Indonesia
(Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.
Tafsir Ringkas
Nabi Muhammad melihat Jibril ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang indah yang meliputinya dan memperlihatkan keagungan Tuhan.
Tafsir Lengkap
Selanjutnya dalam ayat ini Allah swt menerangkan bahwasannya Muhammad saw melihat Jibril di Sidratul Muntaha itu ketika Sidratul Muntaha tertutup oleh suasana yang menandakan kebesaran Allah berupa sinar-sinar yang indah dan malaikat-malaikat.
Al-Qur’an tidak menerangkan dengan jelas, namun bagi kita cukuplah penjelasan yang demikian, tidak menambah atau menguranginya, bila tidak ada dalil yang jelas yang menerangkannya. Seandainya ada manfaatnya untuk dijelaskan niscaya hal itu dijelaskan oleh Allah swt.
مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى
Mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā.
Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya).
An-Najm - Ayat 17
مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى
Latin
Mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā.
Terjemahan Indonesia
Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya).
Tafsir Ringkas
Karena keindahan yang dilihat oleh Nabi Muhammad itu, penglihatannya tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya.
Tafsir Lengkap
Kemudian dalam ayat ini Allah menjelaskan lagi bahwa tatkala Rasulullah saw melihat Jibril di sana, ia tidak berpaling dari memandang semua keajaiban Sidratul Muntaha sesuai dengan apa yang telah diizinkan Allah kepadanya untuk dilihat. Dan ia tidak pula melampaui batas kecuali apa yang telah diizinkan kepadanya.
لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى
Laqad ra'ā min āyāti rabbihil-kubrā.
Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar.
An-Najm - Ayat 18
لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى
Latin
Laqad ra'ā min āyāti rabbihil-kubrā.
Terjemahan Indonesia
Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar.
Tafsir Ringkas
Sungguh, pada saat itu dia, yakni Nabi Muhammad, telah melihat sebagian tanda-tanda keagungan dan kemuliaan Tuhannya yang paling besar.
Tafsir Lengkap
Ayat ini menerangkan bahwa dengan melihat Sidratul Muntaha, berarti Muhammad saw telah melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Allah yang merupakan keajaiban dari kekuasaan-Nya.
Diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan lain-lain bahwa saat itu Muhammad saw melihat suatu lambaian hijau dari surga yang memenuhi ufuk (arah pandangan).
Maka hendaklah kita tidak membatasi apa yang telah dilihat oleh Muhammad saw dengan mata kepalanya, setelah diterangkan secara samar-samar dalam Al-Qur’an tentang hal itu. Yang jelas ialah bahwa Nabi telah melihat tanda-tanda kebesaran Allah swt yang tidak terbatas.
اَفَرَءَيْتُمُ اللّٰتَ وَالْعُزّٰى
Afa ra'aitumul-lāta wal-‘uzzā.
Apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (dua berhala) al-Lata dan al-‘Uzza,
An-Najm - Ayat 19
اَفَرَءَيْتُمُ اللّٰتَ وَالْعُزّٰى
Latin
Afa ra'aitumul-lāta wal-‘uzzā.
Terjemahan Indonesia
Apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (dua berhala) al-Lata dan al-‘Uzza,
Tafsir Ringkas
Bila ayat-ayat yang lalu menjelaskan keteguhan sikap Nabi Muhammad dan kelurusan jalan yang ditempuhnya, maka pada ayat-ayat ini Allah menerangkan kecaman terhadap orang kafir yang tetap me-nyembah berhala. Wahai orang musyrik, maka apakah patut kamu menganggap Al-Lata dan Al-Uzza,
Tafsir Lengkap
Allah swt bertanya kepada orang-orang musyrik, apakah setelah mereka mendengar tanda-tanda Allah baik kesempurnaan maupun keagungan-Nya dalam kekuasaan, dan setelah mendengar keadaan malaikat dengan kedudukan dan kemampuan mereka yang tinggi, masih saja menjadikan berhala-berhala yang hina keadaannya itu sebagai sekutu bagi Allah, sedangkan mereka mengetahui kebesaran-Nya?
Pertanyaan ini merupakan cemoohan dari Tuhan, sebab bagi seorang yang berakal tidak mungkin terlintas dalam pikirannya untuk menyembah berhala yang mereka buat sendiri, kemudian diletakkan dalam suatu rumah yang mereka dirikan sebagai tandingan Ka‘bah.
Adapun al-Lāta adalah nama sebuah batu besar yang berwarna putih, di atas batu itu diukir gambar sebuah rumah. Al-Lāta ini terletak di daerah Ṭaif. Rumah itu dipasangi tabir. Di sekelilingnya ada teras yang diagung-agungkan oleh orang-orang Ṭaif, antara lain Kabilah Ṣaqif dan pengikut-pengikutnya. Mereka tergolong orang-orang yang lebih membanggakan benda itu daripada orang-orang Arab yang lain selain Quraisy. Kata Ibnu Jarīr, mereka menganggap bahwa kata al-Lāta itu diambil dari lafal Allah. Mereka menganggap al-Lāta (Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan). Menurut Ibnu ‘Abbās, Mujāhid, Rabi‘ bin Anas, mereka menamakan al-Lāta dari nama seorang laki-laki yang menumbuk tepung untuk jemaah haji. Setelah ia mati, maka orang-orang berkerumun melakukan iktikaf di atas kuburnya yang selanjutnya mereka menyembah dan membuatkan patungnya.
Menurut Ibnu Jarīr, al-‘Uzza berasal dari kata ‘Azīz, al-‘Uzza ialah sebuah pohon yang di atasnya ada sebuah bangunan dan bertirai, bertempat di Nakhlah yaitu antara Mekah dan Ṭaif; orang-orang Quraisy mengagungkan pohon itu.
Diriwayatkan bahwa Abu Sufyan ketika masih musyrik berkata pada waktu peperangan Uḥud bahwa merekalah yang mempunyai ‘Uzza, sedangkan yang lain tidak. Maka bersabdalah Rasulullah saw.
قُوْلُوْا: اللّٰهُ مَوْلَانَا وَلَا مَوْلَى لَكُمْ .(رواه البخاري وأحمد)
“Katakanlah! Allah adalah Tuhan kami, dan kamu tidak mempunyai Tuhan.” (Riwayat al-Bukhārī dan Aḥmad)
وَمَنٰوةَ الثَّالِثَةَ الْاُخْرٰى
Wa manātaṡ-ṡāliṡatal-ukhrā.
serta Manata (berhala) ketiga yang lain (sebagai anak-anak perempuan Allah yang kamu sembah)?
An-Najm - Ayat 20
وَمَنٰوةَ الثَّالِثَةَ الْاُخْرٰى
Latin
Wa manātaṡ-ṡāliṡatal-ukhrā.
Terjemahan Indonesia
serta Manata (berhala) ketiga yang lain (sebagai anak-anak perempuan Allah yang kamu sembah)?
Tafsir Ringkas
dan Manat, yang merupakan berhala ketiga yang kemudian kamu anggap sebagai anak perempuan Allah?
Tafsir Lengkap
Dalam ayat ini Allah swt melanjutkan ayat yang sebelumnya yaitu bahwa orang-orang musyrik juga menyembah Manah yang ketiga yakni yang terakhir sebagai anak perempuan Allah.
Manah itu sebuah batu besar terletak di Musyallal dengan Qudaid antara Mekah dan Medinah. Kabilah Khuza‘ah, Aus dan Khazraj mengagungkan Manah ini dan dalam melakukan ibadah haji mereka mulai dari Manah sampai ke Ka‘bah.
Selain benda-benda yang tiga itu, masih banyak lagi benda-benda yang sangat dimuliakan oleh orang-orang musyrik. Akan tetapi, yang paling termasyhur adalah tiga benda itu. Ibnu Ishak mengatakan bahwa orang-orang Arab menganggap benda-benda yang tiga itu selain Ka‘bah sebagai benda sembahan mereka, dibuat seperti bangunan Ka‘bah yang mempunyai tabir yang mereka bertawaf padanya seperti tawaf pada Ka‘bah dan memotong binatang kurban di sampingnya. Mereka juga mengetahui kemuliaan Ka‘bah yaitu bahwa Ka‘bah itu adalah rumah Ibrahim dan masjidnya.