Asy-Syu‘arā'
الشّعراۤء
Para Penyair | 227 Ayat | Makkiyah
فَلَمَّا تَرٰۤءَا الْجَمْعٰنِ قَالَ اَصْحٰبُ مُوْسٰٓى اِنَّا لَمُدْرَكُوْنَ ۚ
Falammā tarā'al-jam‘āni qāla aṣḥābu mūsā innā lamudrakūn(a).
Ketika kedua golongan itu saling melihat, para pengikut Musa berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.”
Asy-Syu‘arā' - Ayat 61
فَلَمَّا تَرٰۤءَا الْجَمْعٰنِ قَالَ اَصْحٰبُ مُوْسٰٓى اِنَّا لَمُدْرَكُوْنَ ۚ
Latin
Falammā tarā'al-jam‘āni qāla aṣḥābu mūsā innā lamudrakūn(a).
Terjemahan Indonesia
Ketika kedua golongan itu saling melihat, para pengikut Musa berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.”
Tafsir Ringkas
Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa dengan nada gemetar dan takut, “Kita benar-benar akan tersusul, oleh Fir’aun dan bala tentaranya.”
Tafsir Lengkap
Ketika Musa beserta Bani Israil dan Fir‘aun bersama bala tentaranya berada dalam jarak yang dekat, Bani Israil merasa cemas dan khawatir kalau mereka tersusul oleh Fir‘aun dan bala tentaranya. Mereka berkata kepada Musa, “Fir‘aun dan tentaranya telah menyiksa anak-anak kami sebelum kami berangkat, dan setelah tersusul, kami semua akan dibunuh oleh mereka.”
قَالَ كَلَّا ۗاِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
Qāla kallā, inna ma‘iya rabbī sayahdīn(i).
Dia (Musa) berkata, “Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku.”
Asy-Syu‘arā' - Ayat 62
قَالَ كَلَّا ۗاِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
Latin
Qāla kallā, inna ma‘iya rabbī sayahdīn(i).
Terjemahan Indonesia
Dia (Musa) berkata, “Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku.”
Tafsir Ringkas
Dia Musa menjawab dengan tenang dan meyakinkan, “Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Tuhanku yang menyuruhku keluar dari Mesir, maka pasti Tuhanku jualah yang akan melindungi kita dengan cara-Nya sendiri.”
Tafsir Lengkap
Atas kecemasan dan kekhawatiran Bani Israil itu, Musa menghibur hati mereka dengan ucapan yang tegas bahwa mereka sekali-kali tidak akan tersusul oleh Fir‘aun. Perbuatannya mengajak dan membawa pergi Bani Israil keluar dari Mesir menuju Palestina adalah perintah dan kehendak Allah. Dengan demikian, Allah akan menunjukkan kepada mereka jalan keluar, sehingga mereka selamat dari segala bahaya yang mengancam. Allah pula yang akan memberinya pertolongan dan kemenangan serta menjamin keselamatan mereka dari kekejaman Fir‘aun dan bala tentaranya.
فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ ۚ
Fa auḥainā ilā mūsā aniḍrib bi‘aṣākal-baḥr(a), fanfalaqa fa kāna kullu firqin kaṭ-ṭaudil ‘aẓīm(i).
Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut dengan tongkatmu itu.” Maka, terbelahlah (laut itu) dan setiap belahan seperti gunung yang sangat besar.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 63
فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ ۚ
Latin
Fa auḥainā ilā mūsā aniḍrib bi‘aṣākal-baḥr(a), fanfalaqa fa kāna kullu firqin kaṭ-ṭaudil ‘aẓīm(i).
Terjemahan Indonesia
Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut dengan tongkatmu itu.” Maka, terbelahlah (laut itu) dan setiap belahan seperti gunung yang sangat besar.
Tafsir Ringkas
Pada saat genting seperti inilah, Allah memerintahkan kepada Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut. Allah sebenarnya bisa membelahkan laut tanpa harus ada penyebab berupa pukulan tongkat, tapi Allah ingin agar manusia tetap berusaha. Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu.” Lalu Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Maka, seketika itu, terbelahlah lautan itu menjadi daratan yang bisa dilalui oleh Nabi Musa. Daratan itu terdiri dari dua belas belahan, sesuai dengan kelompok yang ada pada Bani Israil. Dan setiap belahan seperti gunung yang besar.
Tafsir Lengkap
Ayat ini menerangkan bahwa Allah mewahyukan kepada Musa dan menunjukkan jalan keluar dari bahaya yang mengancam itu. Musa diperintahkan untuk memukulkan tongkatnya ke laut sehingga lautan itu terbelah dan membentuk jalan yang akan dilalui setiap keturunan Bani Israil. Setiap belahan dari air laut itu merupakan gunung besar dan tinggi, serta membentuk jalan yang kering dan bisa dilalui Bani Israil, sebagaimana firman Allah:
وَلَقَدْ اَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنْ اَسْرِ بِعِبَادِيْ فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيْقًا فِى الْبَحْرِ يَبَسًاۙ لَّا تَخٰفُ دَرَكًا وَّلَا تَخْشٰى ٧٧
Dan sungguh, telah Kami wahyukan kepada Musa, “Pergilah bersama hamba-hamba-Ku (Bani Israil) pada malam hari, dan pukullah (buatlah) untuk mereka jalan yang kering di laut itu, (engkau) tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir (akan tenggelam).” (Ṭāhā/20: 77)
وَاَزْلَفْنَا ثَمَّ الْاٰخَرِيْنَ ۚ
Wa azlafnā ṡammal-ākharīn(a).
Di sanalah Kami dekatkan kelompok yang lain.542)
Asy-Syu‘arā' - Ayat 64
وَاَزْلَفْنَا ثَمَّ الْاٰخَرِيْنَ ۚ
Latin
Wa azlafnā ṡammal-ākharīn(a).
Terjemahan Indonesia
Di sanalah Kami dekatkan kelompok yang lain.542)
Catatan Kaki
542) Yang dimaksud dengan kelompok yang lain adalah Fir‘aun dan bala tentaranya. Maksud ayat ini adalah bahwa di bagian yang terbelah itu Allah Swt. mendekatkan antara Fir‘aun dan bala tentaranya dengan Nabi Musa a.s. dan Bani Israil.
Tafsir Ringkas
Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain, yaitu Fir’aun dan bala tentaranya, sebagai cara Kami untuk menenggelamkan mereka. Lalu Fir’aun dan bala tentaranya mengejar Nabi Musa melalui jalan yang terbelah itu. Kemudian setelah semuanya berada di tengah laut, Kami kembalikan daratan itu menjadi laut kembali, sehingga Fir’aun dan semua bala tentaranya mati tenggelam.
Tafsir Lengkap
Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa setelah Fir‘aun melihat Bani Israil dari dekat berjalan mengarungi lautan itu, ia dan tentaranya pun mengikuti jejak mereka dan memasuki lautan. Ketika Fir‘aun dan tentaranya berada di tengah-tengah laut, sedang Musa dan Bani Israil sudah sampai di seberang lautan dan semuanya selamat sampai di darat, air laut pun bertaut kembali seperti biasa. Dengan demikian, Fir‘aun yang sedang meniti jalan yang sama terjebak air dan tenggelam bersama tentaranya, sehingga tidak ada seorang pun yang selamat.
وَاَنْجَيْنَا مُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗٓ اَجْمَعِيْنَ ۚ
Wa anjainā mūsā wa mam ma‘ahū ajma‘īn(a).
Kami selamatkan Musa dan semua orang yang bersamanya.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 65
وَاَنْجَيْنَا مُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗٓ اَجْمَعِيْنَ ۚ
Latin
Wa anjainā mūsā wa mam ma‘ahū ajma‘īn(a).
Terjemahan Indonesia
Kami selamatkan Musa dan semua orang yang bersamanya.
Tafsir Ringkas
Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya sebagai balasan atas kesabaran mereka dalam mengahadapi Fir’aun dan kekejamannya, dan atas kesabaran taat kepada ajakan Nabi Musa untuk berhijrah dari negeri Mesir.
Tafsir Lengkap
Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa setelah Fir‘aun melihat Bani Israil dari dekat berjalan mengarungi lautan itu, ia dan tentaranya pun mengikuti jejak mereka dan memasuki lautan. Ketika Fir‘aun dan tentaranya berada di tengah-tengah laut, sedang Musa dan Bani Israil sudah sampai di seberang lautan dan semuanya selamat sampai di darat, air laut pun bertaut kembali seperti biasa. Dengan demikian, Fir‘aun yang sedang meniti jalan yang sama terjebak air dan tenggelam bersama tentaranya, sehingga tidak ada seorang pun yang selamat.
ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ ۗ
Ṡumma agraqnal-ākharīn(a).
Kemudian, Kami tenggelamkan kelompok yang lain.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 66
ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ ۗ
Latin
Ṡumma agraqnal-ākharīn(a).
Terjemahan Indonesia
Kemudian, Kami tenggelamkan kelompok yang lain.
Tafsir Ringkas
Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain yaitu Fir’aun dan bala tentaranya, sebagai balasan atas kesombongan dan kekafiran mereka.
Tafsir Lengkap
Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa setelah Fir‘aun melihat Bani Israil dari dekat berjalan mengarungi lautan itu, ia dan tentaranya pun mengikuti jejak mereka dan memasuki lautan. Ketika Fir‘aun dan tentaranya berada di tengah-tengah laut, sedang Musa dan Bani Israil sudah sampai di seberang lautan dan semuanya selamat sampai di darat, air laut pun bertaut kembali seperti biasa. Dengan demikian, Fir‘aun yang sedang meniti jalan yang sama terjebak air dan tenggelam bersama tentaranya, sehingga tidak ada seorang pun yang selamat.
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً ۗوَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Inna fī żālika la'āyah(tan), wa mā kāna akṡaruhum mu'minīn(a).
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 67
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً ۗوَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Latin
Inna fī żālika la'āyah(tan), wa mā kāna akṡaruhum mu'minīn(a).
Terjemahan Indonesia
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
Tafsir Ringkas
Sungguh, pada yang demikian itu, yaitu binasanya orang yang durhaka dan selamatnya orang yang beriman, terdapat suatu tanda kekuasaan Allah yang demikian besar, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
Tafsir Lengkap
Keberhasilan Musa dan semua pengikutnya sampai ke daratan seberang dengan selamat, dan tenggelamnya Fir‘aun bersama seluruh tentaranya di tengah lautan merupakan satu tanda yang nyata atas kekuasaan Allah dan kebenaran Nabi Musa sebagai rasul-Nya. Allah senantiasa memberikan pertolongan dan kemenangan kepada para hamba-Nya yang beriman dengan sungguh-sungguh. Allah juga selalu membinasakan dan menyiksa orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya terutama di akhirat kelak. Firman Allah:
وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ
Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (al-Ḥajj/22: 40)
ذٰلِكَ جَزَاۤءُ اَعْدَاۤءِ اللّٰهِ النَّارُ لَهُمْ فِيْهَا دَارُ الْخُلْدِ ۗجَزَاۤءً ۢبِمَا كَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يَجْحَدُوْنَ ٢٨
Demikianlah balasan (terhadap) musuh-musuh Allah (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai balasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. (Fuṣṣilat/41: 28)
Manusia yang keras dan hatinya telah membatu seperti Fir‘aun dan kaumnya tidak akan mau beriman, meskipun melihat dengan nyata kebenaran sesuatu. Peristiwa ini juga menjadi penghibur bagi Rasulullah karena dengan hal itu, beliau mengetahui bahwa bukan hanya dia yang mengalami cobaan seperti itu, tetapi juga para nabi dan rasul Allah yang terdahulu. Semuanya berakhir dengan kemenangan bagi para nabi dan rasul Allah, dan kekalahan bagi musuh-musuh mereka.
وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ࣖ
Wa inna rabbaka lahuwal-‘azīzur-raḥīm(u).
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 68
وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ࣖ
Latin
Wa inna rabbaka lahuwal-‘azīzur-raḥīm(u).
Terjemahan Indonesia
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
Tafsir Ringkas
Dan sesungguhnya Tuhanmu Dialah Yang Mahaperkasa dan Mahakuat atas segala sesuatu, tidak ada yang bisa mengalahkan-Nya. Disisi lain, Dia Maha Penyayang bagi mereka yang beriman dan mau kembali ke jalan Allah.
Tafsir Lengkap
Ayat ini menerangkan bahwa Allah Mahaperkasa dan Mahakuasa. Dia akan mengazab para musuh-Nya dan musuh para nabi dan rasul. Akan tetapi, Allah Maha Penyayang kepada para pendukung dan pembela agama-Nya.
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ اِبْرٰهِيْمَ ۘ
Watlu ‘alaihim naba'a ibrāhīm(a).
Bacakanlah kepada mereka berita Ibrahim.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 69
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ اِبْرٰهِيْمَ ۘ
Latin
Watlu ‘alaihim naba'a ibrāhīm(a).
Terjemahan Indonesia
Bacakanlah kepada mereka berita Ibrahim.
Tafsir Ringkas
Ayat-ayat berikut ini menyebutkan beberapa kisah Nabi Ibrahim ketika menyeru kaumnya untuk mengesakan Allah. Dan bacakanlah kepada mereka, kaum musyrik Mekah, kisah perjuangan Nabi Ibrahim. Kaum musyrik menganggap bahwa mereka adalah penerus agama Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail, padahal hal itu sama sekali bertentangan dengan agama Ibrahim yang sebenarnya, yaitu agama tauhid.
Tafsir Lengkap
Allah menyuruh Nabi Muhammad menceritakan kepada kaum musyrik Mekah kisah Nabi Ibrahim sebagai pengajaran bagi seluruh umatnya. Mereka diharapkan supaya mencontoh dan meneladani sifat-sifat mulia yang menghiasi pribadi Nabi Ibrahim. Beliau adalah seorang yang ikhlas dalam beramal, tawakal, dan senantiasa menyembah Allah Yang Maha Esa. Beliau dianugerahi Allah kecerdasan otak sejak kecil sebagai suatu pemberian yang layak diterima oleh seorang rasul. Hal itulah yang menyebabkan Ibrahim selalu menentang kaumnya (termasuk bapaknya) yang menyembah berhala yang mereka perlakukan sebagai tuhan.
اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا تَعْبُدُوْنَ
Iż qāla li'abīhi wa qaumihī mā ta‘budūn(a).
Ketika dia (Ibrahim) berkata kepada bapak dan kaumnya, “Apa yang kamu sembah?”
Asy-Syu‘arā' - Ayat 70
اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا تَعْبُدُوْنَ
Latin
Iż qāla li'abīhi wa qaumihī mā ta‘budūn(a).
Terjemahan Indonesia
Ketika dia (Ibrahim) berkata kepada bapak dan kaumnya, “Apa yang kamu sembah?”
Tafsir Ringkas
Ketika dia Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, yang menyembah berhala di Irak selatan, “Apakah yang kamu sembah? bukankah itu benda mati yang dibuat dengan tanganmu sendiri?”
Tafsir Lengkap
Ibrahim menganggap penyembahan berhala itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Ia menanyakan kepada bapak dan kaumnya apa alasan mereka mengabdikan diri kepada tuhan-tuhan yang tidak mengerti apa-apa. Sebenarnya beliau bukan tidak mengetahui apa sesungguhnya hakikat berhala yang disembah itu, namun Ibrahim ingin sekadar mendengar dari mulut mereka alasan kongkrit dari penyembahan semacam itu. Menurut ahli sejarah, patung-patung sembahan mereka itu terbuat dari emas dan perak, dan ada juga dari tembaga dan besi. Oleh karena itu, mereka merasa bangga dengan tuhan hasil ciptaannya. “Apa sebabnya kamu mempertuhankan patung-patung itu?” tanya Ibrahim.
قَالُوْا نَعْبُدُ اَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عٰكِفِيْنَ
Qālū na‘budu aṣnāman fa naẓallu lahā ‘ākifīn(a).
Mereka menjawab, “Kami menyembah berhala-berhala dan senantiasa tekun menyembahnya.”
Asy-Syu‘arā' - Ayat 71
قَالُوْا نَعْبُدُ اَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عٰكِفِيْنَ
Latin
Qālū na‘budu aṣnāman fa naẓallu lahā ‘ākifīn(a).
Terjemahan Indonesia
Mereka menjawab, “Kami menyembah berhala-berhala dan senantiasa tekun menyembahnya.”
Tafsir Ringkas
Mereka menjawab, “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya setiap saat.” Nabi Ibrahim mencoba berdialog dengan mereka dan mengajak mereka berpikir secara rasional, tidak secara emosional.
Tafsir Lengkap
Pertanyaan itu dijawab kaumnya dengan sikap sombong, “Memang kami ini adalah penyembah berhala. Seluruh hidup dan kehidupan kami, dengan rela kami baktikan kepadanya.” Menurut ahli tafsir, kaum Nabi Ibrahim tersebut melakukan penyembahan terhadap berhala pada siang hari saja. Mereka sangat tekun dan khusyuk menyembahnya.
قَالَ هَلْ يَسْمَعُوْنَكُمْ اِذْ تَدْعُوْنَ ۙ
Qāla hal yasma‘ūnakum iż tad‘ūn(a).
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah mereka mendengarmu ketika kamu berdoa (kepadanya)?
Asy-Syu‘arā' - Ayat 72
قَالَ هَلْ يَسْمَعُوْنَكُمْ اِذْ تَدْعُوْنَ ۙ
Latin
Qāla hal yasma‘ūnakum iż tad‘ūn(a).
Terjemahan Indonesia
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah mereka mendengarmu ketika kamu berdoa (kepadanya)?
Tafsir Ringkas
Ibrahim berkata dalam bentuk kalimat tanya agar mereka mulai berpikir, “Apakah mereka, tuhan yang kamu sembah itu, mendengarmu ketika kamu berdoa kepadanya sehingga kamu pantas untuk menyembahnya?” Alasan seorang menyembah sesuatu adalah dalam rangka mendatangkan kemanfaatan dan menolak bahaya.
Tafsir Lengkap
Mendengar keterangan itu, bertambah yakinlah Ibrahim bahwa kepercayaan tersebut bukanlah berdasarkan alasan yang masuk akal. Mulailah beliau berpikir bagaimana caranya untuk meluruskan kembali jalan pikiran kaumnya yang telah sesat itu. Tugas beliau yang utama ialah mengembalikan mereka kepada ajaran tauhid.
Ibrahim bertanya lagi, apakah berhala-berhala tersebut dapat mendengar permohonan yang diucapkan mereka. Hal demikian beliau persoalkan untuk menguji sampai di manakah logika mereka dapat dipergunakan untuk memahami ucapan dan perbuatan dalam bentuk doa-doa kepada berhala tersebut. Sebab andaikata yang disembah itu saja tidak mendengar, bagaimana pula ia bisa mengabulkan permohonan yang diajukan kepadanya. Tegasnya bagaimana mungkin dipahami dengan benar hakikat peribadatan seperti itu kalau otak mereka tidak bisa mencerna dengan baik tujuan penyembahan terhadap berhala-berhala itu.
اَوْ يَنْفَعُوْنَكُمْ اَوْ يَضُرُّوْنَ
Au yanfa‘ūnakum au yaḍurrūn(a).
Atau, (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mudarat kepadamu?”
Asy-Syu‘arā' - Ayat 73
اَوْ يَنْفَعُوْنَكُمْ اَوْ يَضُرُّوْنَ
Latin
Au yanfa‘ūnakum au yaḍurrūn(a).
Terjemahan Indonesia
Atau, (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mudarat kepadamu?”
Tafsir Ringkas
“Atau, dapatkah mereka memberi manfaat kepada kamu seperti rezeki, jika kamu menyembahnya atau mencelakakan kamu jika kamu tidak menyembahnya?” lanjut Nabi Ibrahim.
Tafsir Lengkap
Rangkaian pertanyaan Ibrahim itu selanjutnya ialah apakah betul tuhan-tuhan yang mereka sembah itu dapat mendatangkan faedah dalam kehidupan. Bisakah ia memberi rezeki, makan, dan minum andaikata ia betul-betul tuhan yang mahakuasa? Sebaliknya bisa pulakah ia melepaskan kaum pemujanya dari bala dan musibah yang menimpa mereka?
قَالُوْا بَلْ وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا كَذٰلِكَ يَفْعَلُوْنَ
Qālū bal wajadnā ābā'anā każālika yaf‘alūn(a).
Mereka menjawab, “Tidak, tetapi kami mendapati nenek moyang kami berbuat begitu.”
Asy-Syu‘arā' - Ayat 74
قَالُوْا بَلْ وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا كَذٰلِكَ يَفْعَلُوْنَ
Latin
Qālū bal wajadnā ābā'anā każālika yaf‘alūn(a).
Terjemahan Indonesia
Mereka menjawab, “Tidak, tetapi kami mendapati nenek moyang kami berbuat begitu.”
Tafsir Ringkas
Mereka menjawab, “Tidak, mereka tidak memberikan kemanfaatkan dan mendatangkan bahaya, tetapi kami dapati nenek moyang kami berbuat begitu.” Mereka berbangga dengan perilaku seperti itu. Inilah bentuk taklid buta, yaitu mengikuti cara beribadah orang lain walaupun hal itu salah.
Tafsir Lengkap
Pertanyaan-pertanyaan itu mereka jawab sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Namun demikian, pada akhirnya Ibrahim mengetahui motif sesungguhnya dari penyembahan itu, yaitu merupakan tradisi yang diwarisi dari nenek moyang mereka. “Kami hanya mendapati nenek moyang kami berbuat demikian, dan kebiasaan itulah yang kami ikuti,” jawab mereka dengan tegas kepada Ibrahim.
قَالَ اَفَرَءَيْتُمْ مَّا كُنْتُمْ تَعْبُدُوْنَ ۙ
Qāla afa ra'aitum mā kuntum ta‘budūn(a).
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang selalu kamu sembah?
Asy-Syu‘arā' - Ayat 75
قَالَ اَفَرَءَيْتُمْ مَّا كُنْتُمْ تَعْبُدُوْنَ ۙ
Latin
Qāla afa ra'aitum mā kuntum ta‘budūn(a).
Terjemahan Indonesia
Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang selalu kamu sembah?
Tafsir Ringkas
Ibrahim berkata, “Apakah kamu memperhatikan dengan sebenar-benarnya apa yang kamu sembah, apakah hal itu pantas kamu lakukan?
Tafsir Lengkap
Jawaban tersebut tidak memuaskan beliau. Perbuatan-perbuatan taklid yang tidak ada dasarnya itu harus diberantas. Cara membasminya dengan jalan menyadarkan pikiran mereka akan kekeliruan mereka dan nenek moyangnya. Ibrahim mengingatkan apakah hal itu tidak pernah terpikirkan dan tidak pernah terlintas dalam ingatan untuk menganalisa dan merenungkan perbuatan yang hanya semata-mata mencontoh itu.
اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمُ الْاَقْدَمُوْنَ ۙ
Antum wa ābā'ukumul-aqdamūn(a).
Kamu dan nenek moyangmu terdahulu?
Asy-Syu‘arā' - Ayat 76
اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمُ الْاَقْدَمُوْنَ ۙ
Latin
Antum wa ābā'ukumul-aqdamūn(a).
Terjemahan Indonesia
Kamu dan nenek moyangmu terdahulu?
Tafsir Ringkas
Kamu dan nenek moyang kamu yang terdahulu?” Nabi Ibrahim lantas memperlihatkan sikapnya yang tegas dan bernada permusuhan, karena dalam hal keimanan dan ibadah tidak ada kompromi dengan siapa pun.
Tafsir Lengkap
Dalam ayat ini, beliau menegaskan bahwa mereka atau para leluhurnya adalah manusia-manusia yang tidak mau mempergunakan pikiran. Sebab ternyata patung-patung yang dipuja itu tidak dapat mendengar, apalagi memahami apa yang diminta kepadanya. Lebih dari itu, patung-patung itu tidak bisa mendatangkan manfaat atau menolak bahaya. Fungsinya semata-mata barang ciptaan manusia belaka yang tidak seyogyanya dijadikan sebagai sesembahan.
فَاِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّيْٓ اِلَّا رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ
Fa innahum ‘aduwwul lī illā rabbal-‘ālamīn(a).
Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku, lain halnya Tuhan pemelihara semesta alam.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 77
فَاِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّيْٓ اِلَّا رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ
Latin
Fa innahum ‘aduwwul lī illā rabbal-‘ālamīn(a).
Terjemahan Indonesia
Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku, lain halnya Tuhan pemelihara semesta alam.
Tafsir Ringkas
“Sesungguhnya mereka, yakni apa yang kamu sembah, itu musuhku, karena mereka adalah setan dalam bentuk berhala lain halnya Tuhan seluruh alam yang banyak sekali memberikan anugerah kepadaku dan kepada kamu sekalian.” demikian Nabi Ibrahim menjelaskan. Ia lalu menyebutkan satu persatu anugerah Tuhannya agar mereka sadar akan kekeliruan mereka dan mengikuti ajakan Nabi Ibrahim.
Tafsir Lengkap
Kemudian Nabi Ibrahim menegaskan pendiriannya. Pendirian seorang rasul Tuhan yang membawa risalah untuk menyebarkan paham tauhid (monoteisme) di kalangan kaumnya. Beliau memproklamasikan diri sebagai musuh utama dari tuhan-tuhan mereka. Menurutnya, yang berhak disembah hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan alam semesta. Kepada-Nyalah manusia harus mengabdikan diri. Keyakinan tauhid itu didasarkan pada beberapa alasan yang masuk akal.
Misi yang dibawa Nabi Ibrahim, juga pernah dibawa oleh nabi sebelumnya yakni Nuh. Semua para nabi dan rasul membawa tugas pokok seperti itu. Mereka di samping mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah, juga dengan terang-terangan memusuhi setiap bentuk penyembahan yang pada prinsipnya mempersekutukan Allah. Nabi Nuh juga menentang kaumnya yang bermaksud mencelakakannya akibat seruannya untuk beriman, sebagaimana yang dilukiskan dalam firman Allah:
فَاَجْمِعُوْٓا اَمْرَكُمْ وَشُرَكَاۤءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ اَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوْٓا اِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُوْنِ
Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku), dan janganlah keputusanmu itu dirahasiakan. Kemudian bertindaklah terhadap diriku, dan janganlah kamu tunda lagi. (Yūnus/10: 71)
Demikian juga firman Allah menerangkan ucapan Nabi Hud a.s.:
قَالَ اِنِّيْٓ اُشْهِدُ اللّٰهَ وَاشْهَدُوْٓا اَنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ
Dia (Hud) menjawab, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (Hūd/11: 54)
الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِ ۙ
Allażī khalaqanī fa huwa yahdīn(i).
(Allah) yang telah menciptakanku. Maka, Dia (pula) yang memberi petunjuk kepadaku.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 78
الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِ ۙ
Latin
Allażī khalaqanī fa huwa yahdīn(i).
Terjemahan Indonesia
(Allah) yang telah menciptakanku. Maka, Dia (pula) yang memberi petunjuk kepadaku.
Tafsir Ringkas
Nabi Ibrahim melanjutkan keterangannnya, “Dia adalah Zat yang telah menciptakan aku dalam sebaik-baiknya bentuk dan aku diberi kesempatan dalam hidupku untuk menyembah Allah, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, menuju ke jalan yang benar melalui wahyu yang diberikan kepadaku.
Tafsir Lengkap
Dalam ayat-ayat berikut ini, Nabi Ibrahim menjelaskan sebagian dari dalil-dalil keesaan Tuhan, yang merupakan sebagian dari sifat-sifat Allah Rabbul ‘Ālamīn. Allah adalah pencipta manusia, dengan ciptaan yang sebaik-baiknya. Dia pula yang memberi petunjuk (hidayah).
Seperti diketahui, hidayah itu bermacam-macam. Ada hidayah yang disebut dengan hidayah pancaindra, hidayah akal (pikiran), hidayah insting (kepandaian yang dibawa sejak lahir), dan hidayah agama (ad-dīn). Akal adalah hidayah Tuhan yang sangat berharga, sebab dengan akal manusia sanggup membedakan yang buruk dengan yang baik. Akal pula yang membedakan manusia dengan hewan.
Namun demikian, akal saja belum merupakan jaminan bagi keselamatan manusia. Oleh sebab itu, Allah melengkapi nikmatnya dengan memberikan kepada mereka agama. Hidayah agama itu hanya Tuhan sajalah yang memberinya. Bila seseorang dikehendaki Allah memperoleh hidayah (agama), tidak seorang pun yang dapat menghalanginya. Sebaliknya jika Allah belum menghendaki yang demikian, tidak ada yang bisa memberikan petunjuk. Bahkan nabi dan rasul sendiri pun yang ditugaskan membawa hidayah itu juga tidak punya wewenang untuk memberi hidayah seperti terlihat dalam kisah Nabi Ibrahim pada ayat yang lain (Surah al-An‘ām/6: 74-88) yang menceritakan dialog antara beliau dengan bapaknya (Āzar) dan kaumnya. Ibrahim berusaha mengislamkan bapaknya, tetapi Allah tidak memberi hidayah, sehingga dia tetap dalam kemusyrikan.
Demikian juga halnya paman Nabi Muhammad, Abū Ṭālib, yang sudah banyak berjasa dalam mengembangkan dakwah Nabi di Mekah. Nabi sangat menginginkan pamannya masuk Islam, tetapi Allah belum memberi hidayah sehingga ia tetap musyrik sampai akhir hayatnya. Allah berfirman:
اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ٥٦
Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (al-Qaṣaṣ/28: 56)
وَالَّذِيْ هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِ ۙ
Wal-lażī huwa yuṭ‘imunī wa yasqīn(i).
Dia (pula) yang memberiku makan dan minum.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 79
وَالَّذِيْ هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِ ۙ
Latin
Wal-lażī huwa yuṭ‘imunī wa yasqīn(i).
Terjemahan Indonesia
Dia (pula) yang memberiku makan dan minum.
Tafsir Ringkas
Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, melalui rezeki dari air hujan yang menyuburkan tanah sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Dari situlah aku makan dan minum.
Tafsir Lengkap
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah memberi manusia makan dan minum. Makan dan minum itu merupakan rezeki dari Allah. Caranya Allah memberi rezeki itu dengan jalan memudahkan bagi manusia untuk mem-perolehnya. Semuanya itu bergantung kepada kecakapan dan pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing manusia. Allah menurunkan hujan dari langit sebagai minuman bagi manusia, binatang, dan hewan ternak. Dengan air hujan itu, bumi menjadi subur dan menghasilkan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan untuk dapat dinikmati. Begitu juga Allah menyediakan seribu macam benda-benda berharga dalam perut bumi seperti besi, minyak, emas, aluminium, dan sebagainya. Semuanya dengan maksud agar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman:
الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً ۖوَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ٢٢
(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (al-Baqarah/2: 22).
وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ
Wa iżā mariḍtu fa huwa yasyfīn(i).
Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 80
وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ
Latin
Wa iżā mariḍtu fa huwa yasyfīn(i).
Terjemahan Indonesia
Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.
Tafsir Ringkas
Dan apabila aku sakit, Dialah pada hakikatnya yang menyembuhkan aku, baik melalui sebab atau tidak.
Tafsir Lengkap
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah yang menyembuhkan manusia apabila ia sakit. Allah berkuasa menyembuhkan penyakit apa saja yang diderita oleh seseorang. Meskipun begitu, manusia juga harus mencari tahu cara untuk memperoleh kesembuhan itu.
Imam Jamāluddīn al-Qāsimī dalam tafsirnya menguraikan bahwa ayat ini menggambarkan tata susila seorang hamba Allah kepada Khaliknya. Sebab penyakit itu kadang-kadang akibat dari perbuatan manusia sendiri, umpamanya disebabkan oleh pelanggaran terhadap norma-norma kesehatan, atau pola hidup sehari-hari, maka serangan penyakit terhadap tubuh tidak dapat dielakkan. Sebaliknya yang berhak menyembuhkan penyakit adalah Allah semata. Bila orang sakit merasakan yang demikian waktu ia menderita sakit, maka ia akan menghayati benar nikmat-nikmat Allah setelah ia sembuh dari penyakit tersebut. Kenyataan memang membuktikan, kebanyakan manusia terserang penyakit disebabkan kurang memperhatikan norma-norma kesehatan yang berlaku.