Asy-Syu‘arā'
الشّعراۤء
Para Penyair | 227 Ayat | Makkiyah
وَلَا صَدِيْقٍ حَمِيْمٍ
Wa lā ṣadīqin ḥamīm(in).
Tidak pula ada teman akrab.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 101
وَلَا صَدِيْقٍ حَمِيْمٍ
Latin
Wa lā ṣadīqin ḥamīm(in).
Terjemahan Indonesia
Tidak pula ada teman akrab.
Tafsir Ringkas
Dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, yang bisa memberikan sedikit pertolongan.” sesal mereka. Setelah tidak ada lagi yang membantu, mereka lantas menginginkan kembali lagi ke dunia agar bisa melakukan amal saleh.
Tafsir Lengkap
Teman dekat atau keluarga sendiri juga mereka sadari tidak akan dapat menolong. Dalam ayat lain disebutkan:
فَهَلْ لَّنَا مِنْ شُفَعَاۤءَ فَيَشْفَعُوْا لَنَآ اَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُ
Maka adakah pemberi syafaat bagi kami yang akan memberikan pertolongan kepada kami atau agar kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami akan beramal tidak seperti perbuatan yang pernah kami lakukan dahulu? (al-A‘rāf/7: 53).
فَلَوْ اَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
Falau anna lanā karratan fa nakūna minal-mu'minīn(a).
Seandainya dapat kembali (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.”
Asy-Syu‘arā' - Ayat 102
فَلَوْ اَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
Latin
Falau anna lanā karratan fa nakūna minal-mu'minīn(a).
Terjemahan Indonesia
Seandainya dapat kembali (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.”
Tafsir Ringkas
“Maka seandainya kita dapat kembali ke dunia niscaya kita menjadi orang-orang yang beriman, dan beramal saleh.” demikian mereka mengungkapkan penyesalannya. Tapi hal itu mustahil mereka dapatkan, karena hidup di dunia cuma sekali.
Tafsir Lengkap
Mereka berharap dapat dikembalikan ke dunia. Jika keinginan itu terkabul, mereka berjanji akan beriman dan beramal saleh. Akan tetapi, hal itu tidak mungkin. Itu hanya alasan mereka, sebab sekiranya dikembalikan ke dunia sekalipun, mereka tetap akan ingkar kembali.
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً ۗوَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Inna fī żālika la'āyah(tan), wa mā kāna akṡaruhum mu'minīn(a).
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 103
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً ۗوَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Latin
Inna fī żālika la'āyah(tan), wa mā kāna akṡaruhum mu'minīn(a).
Terjemahan Indonesia
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
Tafsir Ringkas
Sungguh, pada yang demikian itu yaitu pada dialog ahli neraka itu jika direnungkan dengan saksama, terdapat tanda kekuasaan Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
Tafsir Lengkap
Demikianlah beberapa keterangan Tuhan yang disampaikan Ibrahim kepada kaumnya. Dengan dalil-dalil di atas tadi, nyatalah bahwa inti ajaran yang beliau sampaikan kepada kaumnya adalah paham ketauhidan dan percaya akan adanya hari kebangkitan. Tidak ada zat yang patut disembah melainkan Allah Yang Maha Esa. Hanya kebanyakan orang tidak mau mengerti atau tidak mau menerima kebenaran itu.
وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ࣖ
Wa inna rabbaka lahuwal-‘azīzur-raḥīm(u).
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 104
وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ࣖ
Latin
Wa inna rabbaka lahuwal-‘azīzur-raḥīm(u).
Terjemahan Indonesia
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
Tafsir Ringkas
Dan sungguh, Tuhanmu benar-benar Dialah Mahaperkasa, yang mampu mempercepat siksa-Nya, Maha Penyayang dengan mengakhirkan siksa sampai di akhirat nanti.
Tafsir Lengkap
Allah dengan keperkasaan dan sifat Yang Maha Penyayang-Nya, senantiasa mengingatkan orang-orang yang sesat dan tidak mau beriman dengan ayat-ayat-Nya. Allah mengirimkan rasul kepada mereka supaya memperoleh hidayah dari-Nya. Allah mengutus para rasul itu dengan membawa ajaran-ajaran dan hukum-hukum agama, supaya dapat diikuti oleh mereka dan anak keturunannya.
كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوْحِ ِۨالْمُرْسَلِيْنَ ۚ
Każżabat qaumu nūḥinil-mursalīn(a).
Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 105
كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوْحِ ِۨالْمُرْسَلِيْنَ ۚ
Latin
Każżabat qaumu nūḥinil-mursalīn(a).
Terjemahan Indonesia
Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.
Tafsir Ringkas
Kaum Nabi Nuh telah mendustakan para rasul. Para rasul Allah adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Mendustakan satu rasul sama saja dengan mendustakan semua rasul.
Tafsir Lengkap
Ayat-ayat ini menerangkan bahwa Nabi Nuh telah didustakan kaumnya ketika ia menyampaikan agama Allah kepada mereka. Sekalipun yang mereka dustakan itu hanyalah Nabi Nuh sendiri, tetapi tindakan itu berarti mendustakan para rasul Allah yang lain, baik yang diutus sebelum maupun sesudah Nabi Nuh nanti. Ini disebabkan karena risalah yang dibawa para rasul pada dasarnya sama, yaitu akidah tauhid.
Nabi Nuh adalah nabi ketiga yang diutus Allah, setelah Nabi Adam dan Nabi Idris. Nabi Nuh juga merupakan rasul pertama, berdasarkan hadis qudsi:
قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: يَا نُوْحُ اَنْتَ اَوَّلُ رَسُوْلٍ تُبْعَثُ اِلَى اَهْلِ اْلأَرْضِ. (رواه مسلم عن أبى هريرة)
Dari Abū Hurairah r.a. bahwa Nabi saw bersabda, “Allah berfirman, ‘Ya Nuh, engkau adalah rasul yang pertama yang diutus ke bumi’.” (Riwayat Muslim dari Abū Hurairah)
Maksud rasul pertama di sini ialah rasul Allah yang pertama diutus sesudah Nabi Adam dan Nabi Idris. Ia juga disebut bapak manusia kedua setelah Adam, karena sebagian mufasir berpendapat bahwa seluruh manusia musnah dan mati karena topan dan banjir, kecuali orang-orang yang berada di atas perahu bersama Nabi Nuh. Di antara yang selamat itu, terdapat tiga orang putranya, yaitu Sam, Ham, dan Yafiṡ. Maka semua manusia yang ada sampai sekarang berasal dari keturunan ketiga putra Nabi Nuh itu.
Tidak ada keterangan yang pasti tentang jarak waktu antara Adam dan Idris dengan Nabi Nuh. Hanya terdapat beberapa keterangan yang berbeda-beda dalam Taurah Ibriyah, Taurah Samiriyah, dan terjemahan Taurat dalam bahasa Yunani.
Nabi Nuh diutus kepada saudaranya, maksudnya orang-orang yang masih dianggap kerabat dengan Nuh. Dalam surah-surah yang lain disebutkan bahwa Nuh diutus kepada kaumnya.
Kaum Nabi Nuh menyembah patung-patung dan berhala yang mereka anggap sebagai tuhan. Oleh karena itu, Nabi Nuh mengingatkan mereka agar bertakwa kepada Allah dan takut kepada azab-Nya yang dahsyat. Azab itu akan ditimpakan Allah kepada orang-orang yang mengingkari seruan nabi-Nya.
اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ نُوْحٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ
Iż qāla lahum akhūhum nūḥun alā tattaqūn(a).
Ketika saudara mereka, Nuh, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?
Asy-Syu‘arā' - Ayat 106
اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ نُوْحٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ
Latin
Iż qāla lahum akhūhum nūḥun alā tattaqūn(a).
Terjemahan Indonesia
Ketika saudara mereka, Nuh, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?
Tafsir Ringkas
Ketika saudara mereka yaitu Nabi Nuh, saudara senegeri, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?” Pertanyaan itu terlontar mengingat bahwa mereka adalah penyembah patung-patung Wadd, Suwa, Yagus, Ya’uq, dan Nasr (Lihat Surah Nuh/ 71: 23).
Tafsir Lengkap
Ayat-ayat ini menerangkan bahwa Nabi Nuh telah didustakan kaumnya ketika ia menyampaikan agama Allah kepada mereka. Sekalipun yang mereka dustakan itu hanyalah Nabi Nuh sendiri, tetapi tindakan itu berarti mendustakan para rasul Allah yang lain, baik yang diutus sebelum maupun sesudah Nabi Nuh nanti. Ini disebabkan karena risalah yang dibawa para rasul pada dasarnya sama, yaitu akidah tauhid.
Nabi Nuh adalah nabi ketiga yang diutus Allah, setelah Nabi Adam dan Nabi Idris. Nabi Nuh juga merupakan rasul pertama, berdasarkan hadis qudsi:
قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: يَا نُوْحُ اَنْتَ اَوَّلُ رَسُوْلٍ تُبْعَثُ اِلَى اَهْلِ اْلأَرْضِ. (رواه مسلم عن أبى هريرة)
Dari Abū Hurairah r.a. bahwa Nabi saw bersabda, “Allah berfirman, ‘Ya Nuh, engkau adalah rasul yang pertama yang diutus ke bumi’.” (Riwayat Muslim dari Abū Hurairah)
Maksud rasul pertama di sini ialah rasul Allah yang pertama diutus sesudah Nabi Adam dan Nabi Idris. Ia juga disebut bapak manusia kedua setelah Adam, karena sebagian mufasir berpendapat bahwa seluruh manusia musnah dan mati karena topan dan banjir, kecuali orang-orang yang berada di atas perahu bersama Nabi Nuh. Di antara yang selamat itu, terdapat tiga orang putranya, yaitu Sam, Ham, dan Yafiṡ. Maka semua manusia yang ada sampai sekarang berasal dari keturunan ketiga putra Nabi Nuh itu.
Tidak ada keterangan yang pasti tentang jarak waktu antara Adam dan Idris dengan Nabi Nuh. Hanya terdapat beberapa keterangan yang berbeda-beda dalam Taurah Ibriyah, Taurah Samiriyah, dan terjemahan Taurat dalam bahasa Yunani.
Nabi Nuh diutus kepada saudaranya, maksudnya orang-orang yang masih dianggap kerabat dengan Nuh. Dalam surah-surah yang lain disebutkan bahwa Nuh diutus kepada kaumnya.
Kaum Nabi Nuh menyembah patung-patung dan berhala yang mereka anggap sebagai tuhan. Oleh karena itu, Nabi Nuh mengingatkan mereka agar bertakwa kepada Allah dan takut kepada azab-Nya yang dahsyat. Azab itu akan ditimpakan Allah kepada orang-orang yang mengingkari seruan nabi-Nya.
اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌ ۙ
Innī lakum rasūlun amīn(un).
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 107
اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌ ۙ
Latin
Innī lakum rasūlun amīn(un).
Terjemahan Indonesia
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.
Tafsir Ringkas
Nabi Nuh melanjutkan dakwahnya, “Sesungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan yang diutus kepadamu, untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhanku kepadamu.
Tafsir Lengkap
Nabi Nuh memberitahu kaumnya bahwa ia adalah seorang rasul Allah yang diutus kepada mereka. Dia dipercaya untuk menyampaikan perintah dan larangan Allah, tanpa menambah atau mengurangi sedikit pun.
Pada Surah Hūd/11: 31 diterangkan bahwa Nabi Nuh tidak mempunyai kekayaan yang akan diberikan kepada kaumnya. Oleh karena itu, ia tidak dapat menjanjikan harta dan kekayaan untuk mereka. Ia juga tidak mengetahui hal-hal yang gaib, tidak pernah mengatakan bahwa ia adalah malaikat, dan tidak menjanjikan kesenangan dan kebahagiaan kepada orang-orang yang mengikuti seruannya. Semuanya itu hanya Allah yang mengetahui, memiliki, dan menentukan, karena Dialah Yang Mahakuasa. Nuh hanya bertugas untuk menyampaikannya.
فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِۚ
Fattaqullāha wa aṭī‘ūn(i).
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 108
فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِۚ
Latin
Fattaqullāha wa aṭī‘ūn(i).
Terjemahan Indonesia
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
Tafsir Ringkas
Maka bertakwalah kamu kepada Allah dengan menjaga diri agar tidak mendapat murka Allah dan taatlah kepadaku atas semua yang aku sampaikan kepadamu.
Tafsir Lengkap
Ayat ini menerangkan isi risalah yang disampaikan Nabi Nuh kepada kaumnya, yaitu agar bertakwa kepada Allah dan hanya menyembah kepada-Nya. Pada ayat 3 Surah Nuh disebutkan tiga hal yang diperintahkan Allah, yaitu agar menyembah hanya kepada Allah, bertakwa kepada-Nya, dan taat kepada Nabi Nuh
Pada ayat-ayat yang lain diterangkan bahwa risalah yang dibawa Nabi Nuh menyebutkan pula hal-hal sebagai berikut:
1. Akibat baik yang akan diperoleh orang-orang yang bertakwa. Allah akan menambah rezeki mereka, dan menurunkan hujan. Kemudian dengan air itu, Allah menyuburkan bumi, dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.
2. Mengemukakan bukti-bukti keesaan dan kekuasaan Allah, serta menerangkan bukti-bukti kebenaran risalah yang dibawanya. Di antaranya adalah tentang penciptaan manusia dalam beberapa proses kejadian mulai dari setetes mani sampai lahir sebagai manusia. Allah menciptakan langit dan bumi, bulan yang bersinar dan matahari yang bercahaya, menghidupkan dan mematikan manusia, kemudian seluruh manusia akan kembali kepada-Nya.
وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۚ
Wa mā as'alukum ‘alaihi min ajr(in), in ajriya illā ‘alā rabbil-‘ālamīn(a).
Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain, kecuali dari Tuhan semesta alam.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 109
وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۚ
Latin
Wa mā as'alukum ‘alaihi min ajr(in), in ajriya illā ‘alā rabbil-‘ālamīn(a).
Terjemahan Indonesia
Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain, kecuali dari Tuhan semesta alam.
Tafsir Ringkas
Dan aku tidak meminta imbalan apa pun kepadamu baik berupa materi atau jasa, atas ajakan itu, karena imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam yang jauh lebih baik dari semua imbalan yang ada karena Allah Mahakaya, pemilik alam seluruh.
Tafsir Lengkap
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa dalam melaksanakan tugas menyampaikan agama Allah, Nabi Nuh tidak akan meminta upah kepada siapa pun, dan tidak mengharapkan harta kekayaan, kekuasaan, dan kemegahan sedikit pun. Ia hanya mencari keridaan dan pahala dari Allah.
فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ
Fattaqullāha wa aṭī‘ūn(i).
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.”
Asy-Syu‘arā' - Ayat 110
فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ
Latin
Fattaqullāha wa aṭī‘ūn(i).
Terjemahan Indonesia
Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.”
Tafsir Ringkas
Maka bertakwalah kamu kepada Allah dengan mengerjakan semua perintahnya dan menjauhi semua larangan-Nya dan taatlah kepadaku, atas semua yang aku sampaikan kepadamu.” Kaum Nabi Nuh langsung memberikan reaksi secara negatif.
Tafsir Lengkap
Pada ayat ini, Nabi Nuh mengulang dan menegaskan kembali perintah Allah agar kaumnya bertakwa dan taat kepada-Nya. Pengulangan ini adalah untuk menegaskan kepada kaumnya bahwa takwa kepada Allah itu merupakan hal yang sangat penting dan wajib dilakukan oleh setiap manusia, sebagai tanda syukur atas nikmat-nikmat yang tidak terhingga yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka. Takwa itu merupakan sumber segala kebaikan dan merupakan kunci pembuka pintu gerbang kesenangan dan kebahagiaan yang ada di akhirat nanti.
Nabi Nuh berusaha sekuat tenaga menyampaikan risalahnya dengan mengemukakan janji dan ancaman Allah bagi orang-orang yang tidak mengikuti seruan rasul. Ia juga mengemukakan bukti-bukti kebenaran risalah yang dibawanya kepada mereka. Namun demikian, kaumnya tetap tidak menerimanya.
۞ قَالُوْٓا اَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْاَرْذَلُوْنَ ۗ
Qālū anu'minu laka wattaba‘akal-arżalūn(a).
Mereka berkata, “Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu adalah orang-orang hina?”
Asy-Syu‘arā' - Ayat 111
۞ قَالُوْٓا اَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْاَرْذَلُوْنَ ۗ
Latin
Qālū anu'minu laka wattaba‘akal-arżalūn(a).
Terjemahan Indonesia
Mereka berkata, “Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu adalah orang-orang hina?”
Tafsir Ringkas
Mereka berkata, “Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal pengikut-pengikutmu orang-orang yang hina?” Pengikut Nabi Nuh banyak dari golongan rakyat jelata, karena merekalah yang banyak terzalimi dari sistem yang ada, bukan dari kalangan bangsawan yang senang dengan kedudukan mereka. Begitulah mereka melihat persoalan bukan dari ajarannya tapi dari orang yang mengikuti ajaran itu.
Tafsir Lengkap
Ayat ini menjelaskan sikap kaumnya terhadap seruan Nabi Nuh. Mereka mengatakan bahwa tidak ada alasan bagi mereka untuk mengikuti seruan Nuh karena orang-orang yang cerdik pandai dan berakal di antara mereka tidak ada yang tertarik dengan seruan itu apalagi para pemimpin mereka. Hanya orang-orang yang bodoh dan lemah atau orang-orang yang menginginkan sesuatu yang mau menjadi pengikut Nabi Nuh. Allah berfirman:
فَقَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ مَا نَرٰىكَ اِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرٰىكَ اتَّبَعَكَ اِلَّا الَّذِيْنَ هُمْ اَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِۚ وَمَا نَرٰى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍۢ بَلْ نَظُنُّكُمْ كٰذِبِيْنَ ٢٧
Maka berkatalah para pemuka yang kafir dari kaumnya, “Kami tidak melihat engkau, melainkan hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau, melainkan orang yang hina-dina di antara kamu yang lekas percaya. Kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami menganggap kamu adalah orang pendusta.” (Hūd/11: 27)
قَالَ وَمَا عِلْمِيْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۚ
Qāla wa mā ‘ilmī bimā kānū ya‘malūn(a).
Dia (Nuh) menjawab, “Apa pengetahuanku tentang apa yang biasa mereka kerjakan?
Asy-Syu‘arā' - Ayat 112
قَالَ وَمَا عِلْمِيْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۚ
Latin
Qāla wa mā ‘ilmī bimā kānū ya‘malūn(a).
Terjemahan Indonesia
Dia (Nuh) menjawab, “Apa pengetahuanku tentang apa yang biasa mereka kerjakan?
Tafsir Ringkas
Mendengar ejekan kaumnya, Nabi Nuh menjawab, “Tidak ada pengetahuanku tentang apa yang mereka orang-orang yang hina dina itu kerjakan. Aku hanya mengetahui hal-hal yang lahir saja dari mereka saja.
Tafsir Lengkap
Pada ayat ini, Nabi Nuh menjawab bantahan kaumnya dengan mengatakan bahwa ia tidak mengetahui keadaan sebenarnya dari orang-orang yang mengikuti seruannya. Ia tidak ditugaskan Allah untuk menyelidiki asal-usul mereka atau kedudukan masing-masing di masyarakat. Dia hanya ditugaskan menyampaikan agama Allah kepada kaumnya. Jika ada di antara mereka yang beriman, maka dia hanya memandang mereka menurut lahirnya saja, bukan menurut kedudukan mereka dalam masyarakat, kecakapan dan kepandaian mereka, dan bukan pula menurut kekayaan dan kemiskinan mereka.
اِنْ حِسَابُهُمْ اِلَّا عَلٰى رَبِّيْ لَوْ تَشْعُرُوْنَ ۚ
In ḥisābuhum illā ‘alā rabbī lau tasy‘urūn(a).
Perhitungan (amal) mereka tidak lain, kecuali ada pada Tuhanku jika kamu menyadari.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 113
اِنْ حِسَابُهُمْ اِلَّا عَلٰى رَبِّيْ لَوْ تَشْعُرُوْنَ ۚ
Latin
In ḥisābuhum illā ‘alā rabbī lau tasy‘urūn(a).
Terjemahan Indonesia
Perhitungan (amal) mereka tidak lain, kecuali ada pada Tuhanku jika kamu menyadari.
Tafsir Ringkas
Perhitungan amal perbuatan mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, karena Tuhanku yang mengetahui secara hakiki niat dari perbuatan mereka, jika kamu menyadari terhadap apa yang aku katakan. Semestinya kamu memahami persoalan ini dengan akal sehatmu.”
Tafsir Lengkap
Nabi Nuh menyerahkan perhitungan tentang segala perbuatan yang dilakukan oleh para pengikutnya yang beriman sepenuhnya kepada Allah, karena Dialah Yang Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang berwenang menilai perbuatan hamba-hamba-Nya, dan Dia pulalah yang memberi balasannya. Perbuatan yang baik dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, sedang perbuatan buruk dibalas dengan hukuman yang setimpal. Itulah hukum Allah. Mereka seharusnya mengetahui hukum Allah tersebut.
وَمَآ اَنَا۠ بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ
Wa mā ana biṭāridil-mu'minīn(a).
Aku tidak akan mengusir orang-orang yang beriman.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 114
وَمَآ اَنَا۠ بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ
Latin
Wa mā ana biṭāridil-mu'minīn(a).
Terjemahan Indonesia
Aku tidak akan mengusir orang-orang yang beriman.
Tafsir Ringkas
Lalu dengan lantang Nabi Nuh mengatakan kepada kaumnya tentang pengikut-pengikutnya yang setia, “Dan aku tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidak terkecuali apakah mereka terdiri dari orang-orang miskin, dari kalangan bawah atau lainnya. Orang-orang itu pastilah memahami apa yang aku dakwahkan kepada mereka.
Tafsir Lengkap
Sekalipun Nabi Nuh telah berusaha siang dan malam menyeru kaumnya, namun mereka tetap tidak mengindahkannya. Menurut kaumnya, beriman dengan Nuh berarti merendahkan diri ikut bersama-sama orang-orang yang hina dina. Bahkan mereka memaksa Nuh segera mengusir orang-orang yang beriman dari negeri mereka, agar tidak merendahkan martabat dan agama nenek moyang mereka.
Nabi Nuh menjawab permintaan kaumnya dengan mengatakan bahwa dia tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman, sekalipun mereka itu orang-orang miskin, atau berasal dari golongan rendah menurut pandangan kaumnya. Mereka semua menurut pandangan Allah adalah orang-orang yang bertakwa. Keimanan dan ketaatan seseoranglah yang dijadikan ukuran, apakah ia orang yang baik dan mulia atau dia adalah orang yang hina.
اِنْ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ ۗ
In ana illā nażīrum mubīn(un).
Aku tidak lain, kecuali pemberi peringatan yang jelas.”
Asy-Syu‘arā' - Ayat 115
اِنْ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ ۗ
Latin
In ana illā nażīrum mubīn(un).
Terjemahan Indonesia
Aku tidak lain, kecuali pemberi peringatan yang jelas.”
Tafsir Ringkas
Aku, Nabi Nuh, ini hanyalah pemberi peringatan yang jelas terhadap mereka yang selalu berdusta kepadaku, bahwa nasib mereka pastilah akan jelek.
Tafsir Lengkap
Selanjutnya Nuh mengatakan kepada kaumnya bahwa dia hanyalah seorang rasul yang diutus Allah kepada mereka untuk menyampaikan agama-Nya. Ia juga menyampaikan peringatan dan ancaman bahwa azab Allah akan ditimpakan kepada orang-orang yang ingkar dan durhaka, serta orang-orang yang mengingkari seruan rasul. Sedangkan orang-orang yang mengikuti seruan rasul, dan mengindahkan perkataan dan ancaman itu, baik kaya atau miskin, bangsawan atau rakyat biasa, akan dibalas Allah dengan surga yang penuh kenikmatan.
قَالُوْا لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهِ يٰنُوْحُ لَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْمَرْجُوْمِيْنَۗ
Qālū la'illam tantahi yā nūḥu latakūnanna minal-marjūmīn(a).
Mereka berkata, “Wahai Nuh, jika tidak berhenti (dalam berdakwah), niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang dirajam.”
Asy-Syu‘arā' - Ayat 116
قَالُوْا لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهِ يٰنُوْحُ لَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْمَرْجُوْمِيْنَۗ
Latin
Qālū la'illam tantahi yā nūḥu latakūnanna minal-marjūmīn(a).
Terjemahan Indonesia
Mereka berkata, “Wahai Nuh, jika tidak berhenti (dalam berdakwah), niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang dirajam.”
Tafsir Ringkas
Mendengar jawaban Nabi Nuh yang demikian tegas dan masuk akal, kaumnya mengintimidasinya. Mereka berkata, “Wahai Nuh! Sungguh, jika engkau tidak mau berhenti dari ajakanmu, niscaya engkau termasuk orang yang dirajam yaitu dilempari batu sampai mati.” Demikianlah sikap orang-orang zalim pada setiap zaman. Mereka akan menggunakan kekuatan jika kalah dalam adu argumentasi. Mendengar ancaman kaumnya, Nabi Nuh mengadu kepada Tuhannya.
Tafsir Lengkap
Demikianlah Nabi Nuh melaksanakan tugasnya sebagai seorang rasul Allah. Ia berusaha sekuat tenaga menyampaikan seruan Allah, siang dan malam, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Semakin giat Nabi Nuh menyeru mereka, semakin kuat pula halangan dan rintangan yang diberikan kaumnya. Sikap mereka itu dilukiskan dalam firman Allah:
وَاِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْٓا اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَاَصَرُّوْا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًاۚ ٧
Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (Nūḥ/71: 7).
Akhirnya mereka mengancam Nabi Nuh untuk segera menghentikan usahanya mengajak mereka mengikuti agama yang didakwahkannya. Jika ia masih melanjutkan usahanya itu dan tidak menghentikannya, mereka akan merajam dan membinasakan Nabi Nuh.
قَالَ رَبِّ اِنَّ قَوْمِيْ كَذَّبُوْنِۖ
Qāla rabbi inna qaumī każżabūn(i).
Dia (Nuh) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 117
قَالَ رَبِّ اِنَّ قَوْمِيْ كَذَّبُوْنِۖ
Latin
Qāla rabbi inna qaumī każżabūn(i).
Terjemahan Indonesia
Dia (Nuh) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku.
Tafsir Ringkas
Nabi Nuh berkata, “Ya Tuhanku sungguh kaumku telah mendustakan aku. Mereka telah memilih jalan kesesatan, padahal aku, sesuai dengan perintah-Mu, telah mengajak mereka dengan baik-baik, siang dan malam, selama ratusan tahun, untuk kembali ke jalan-Mu.
Tafsir Lengkap
Mendapat ancaman seperti itu, Nabi Nuh tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengadu kepada Allah bahwa kaumnya telah mendustakannya. Ia berharap dengan doa itu akan mendapat pertolongan dari Allah.
فَافْتَحْ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَّنَجِّنِيْ وَمَنْ مَّعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
Faftaḥ bainī wa bainahum fatḥaw wa najjinī wa mam ma‘iya minal-mu'minīn(a).
Maka, berilah keputusan antara aku dan mereka serta selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin bersamaku.”
Asy-Syu‘arā' - Ayat 118
فَافْتَحْ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَّنَجِّنِيْ وَمَنْ مَّعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
Latin
Faftaḥ bainī wa bainahum fatḥaw wa najjinī wa mam ma‘iya minal-mu'minīn(a).
Terjemahan Indonesia
Maka, berilah keputusan antara aku dan mereka serta selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin bersamaku.”
Tafsir Ringkas
Maka berilah keputusan antara aku dengan mereka wahai Tuhanku, di Tangan-Mu-lah nasib mereka dan aku memohon kepada-Mu, selamatkanlah aku dan mereka yang beriman bersamaku dari siksaan-Mu yang akan Engkau timpakan kepada kaumku.”
Tafsir Lengkap
Selanjutnya Nabi Nuh berdoa agar Allah memberikan keputusan yang adil mengenai permasalahan yang terjadi antara dirinya dan kaumnya. Ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk membawa mereka ke jalan yang benar, tetapi sambutan mereka justru berupa ancaman untuk mencederainya. Nabi Nuh yakin ancaman itu tidak main-main. Oleh karena itu, Nabi Nuh betul-betul berdoa agar ia dan kaum mukminin pengikutnya diselamatkan Allah dari ancaman tersebut.
فَاَنْجَيْنٰهُ وَمَنْ مَّعَهٗ فِى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ
Fa anjaināhu wa mam ma‘ahū fil-fulkil-masyḥūn(i).
Kami selamatkan dia (Nuh) dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 119
فَاَنْجَيْنٰهُ وَمَنْ مَّعَهٗ فِى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ
Latin
Fa anjaināhu wa mam ma‘ahū fil-fulkil-masyḥūn(i).
Terjemahan Indonesia
Kami selamatkan dia (Nuh) dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan.
Tafsir Ringkas
Allah pun mengabulkan doa Nabi Nuh. Kemudian Kami menyelamatkannya yakni Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan yaitu berupa kebutuhan pokok mereka.
Tafsir Lengkap
Allah mengabulkan doa Nabi Nuh dan memerintahkan agar ia bersama orang-orang yang beriman membuat sebuah kapal besar yang dapat mengangkut mereka semua, beserta barang-barang keperluan dan alat-alat perlengkapan mereka.
Nabi Nuh bersama para pengikutnya mulai membuat kapal. Kaumnya heran dan tercengang melihat apa yang dilakukannya. Mereka tidak mengetahui apa yang sedang dibuat Nabi Nuh itu. Kaumnya menganggap Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman, terutama yang ikut membantunya membuat kapal itu, telah gila. Setiap orang yang lewat di dekat Nabi Nuh membuat kapal itu mengejek dan mencemooh perbuatannya.
Perintah Allah agar Nabi Nuh membuat kapal dan sikap kaum Nabi Nuh itu dijelaskan dalam firman-Nya:
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِاَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِيْ فِى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا ۚاِنَّهُمْ مُّغْرَقُوْنَ ٣٧ وَيَصْنَعُ الْفُلْكَۗ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَاٌ مِّنْ قَوْمِهٖ سَخِرُوْا مِنْهُ ۗقَالَ اِنْ تَسْخَرُوْا مِنَّا فَاِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُوْنَۗ ٣٨ فَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ مَنْ يَّأْتِيْهِ عَذَابٌ يُّخْزِيْهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُّقِيْمٌ ٣٩
“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” Dan mulailah dia (Nuh) membuat kapal. Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, “Jika kamu mengejek kami, maka kami (pun) akan mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami). Maka kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakan dan (siapa) yang akan ditimpa azab yang kekal.” (Hūd/11: 37-39).
Ejekan itu dijawab Nabi Nuh dengan mengingatkan mereka akan azab Allah yang akan ditimpakan kepada orang-orang kafir yang tidak meng-indahkan seruan rasul-Nya. Jika mereka selalu bersikap demikian, maka azab itu akan segera datang. Pada saat menerima azab dan malapetaka itu, mereka akan menyesal untuk selama-lamanya. Namun demikian, penyesalan itu tak ada gunanya lagi karena semua pintu tobat telah tertutup bagi mereka. Allah mengingatkan Nabi Nuh agar tidak lagi melayani orang-orang yang zalim itu, karena keimanan mereka tidak bisa diharapkan lagi, dan telah menjadi ketetapan Allah untuk membinasakan mereka.
Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya telah berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah membuat kapal itu. Setelah selesai, tibalah saat-saat yang dijanjikan Allah, yaitu membinasakan orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang yang beriman. Pada saat itu, bumi memancarkan air dari segala penjuru dan meluap, seperti luapan air yang sedang mendidih di dalam kuali tempat memasak. Dalam waktu yang singkat, air itu telah menenggelamkan permukaan bumi.
Pada saat itu, Allah memerintahkan agar Nabi Nuh menyuruh orang-orang yang beriman naik ke atas kapal dengan membawa perlengkapan yang diperlukan. Allah juga memerintahkan untuk membawa binatang-binatang piaraan mereka, masing-masing seekor jantan dan betina, agar dapat berkembang biak nanti setelah topan dan banjir berhenti.
Menurut sebagian mufasir, keluarga Nabi Nuh yang ikut masuk ke dalam kapal itu hanyalah seorang istri yang beriman dan tiga orang putranya, yaitu Sam, Ham, dan Yafiṡ. Demikianlah Nabi Nuh mulai berlayar dengan menyebut nama Allah, mengarungi banjir seperti laut itu, menempuh ombak yang menjulang seperti gunung.
ثُمَّ اَغْرَقْنَا بَعْدُ الْبَاقِيْنَ
Ṡumma agraqnā ba‘dul-bāqīn(a).
Kemudian, Kami tenggelamkan orang-orang yang tersisa (tidak beriman) setelah itu.
Asy-Syu‘arā' - Ayat 120
ثُمَّ اَغْرَقْنَا بَعْدُ الْبَاقِيْنَ
Latin
Ṡumma agraqnā ba‘dul-bāqīn(a).
Terjemahan Indonesia
Kemudian, Kami tenggelamkan orang-orang yang tersisa (tidak beriman) setelah itu.
Tafsir Ringkas
Kemudian setelah penyelamatan itu, Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal yaitu mereka yang durhaka.
Tafsir Lengkap
Dalam Al-Qur’an dilukiskan bagaimana besarnya gelombang itu dan bagaimana Nabi Nuh berusaha menyelamatkan anaknya yang kafir. Ia memanggilnya agar naik ke kapal bersama-sama orang-orang yang beriman. Akan tetapi, ajakan itu tidak diindahkannya sehingga putra Nabi Nuh itu tenggelam bersama orang-orang kafir yang lain. Kisah itu disebutkan dalam firman Allah:
وَهِيَ تَجْرِيْ بِهِمْ فِيْ مَوْجٍ كَالْجِبَالِۗ وَنَادٰى نُوْحُ ِۨابْنَهٗ وَكَانَ فِيْ مَعْزِلٍ يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ ٤٢ قَالَ سَاٰوِيْٓ اِلٰى جَبَلٍ يَّعْصِمُنِيْ مِنَ الْمَاۤءِ ۗقَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنْ رَّحِمَ ۚوَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ ٤٣
Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, “Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, “Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan. (Hūd/11: 42-43).
Kapal Nabi Nuh berlayar ke arah yang tidak diketahui oleh penumpang-penumpangnya. Hanya Allah yang mengetahui tujuannya itu.
Pada saat yang telah ditentukan Allah, topan itu berhenti dan banjir pun surut, seakan-akan airnya ditelan bumi. Kapal Nabi Nuh terdampar di puncak bukit yang bernama Judi. Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa Bukit Judi itu terletak di Armenia Selatan yang berbatasan dengan Mesopotamia yang terkenal dengan Bukit Arafat.
Dengan berakhirnya topan dan banjir besar itu, serta berlabuhnya kapal Nabi Nuh dengan selamat di atas Bukit Judi, berarti Allah telah menepati janji-Nya. Dia menyelamatkan orang-orang yang beriman, yang mengikuti seruan Nabi Nuh, dan menghancurkan orang-orang kafir, yang mengingkari seruannya.
Setelah kapal itu berlabuh, Nabi Nuh ingat kembali kepada putranya yang tenggelam. Ia memohonkan keselamatan untuk putranya karena termasuk keluarganya. Akan tetapi, Allah mengingatkan Nabi Nuh bahwa putranya itu bukan lagi keluarganya karena telah menjadi orang kafir. Allah berfirman:
وَنَادٰى نُوْحٌ رَّبَّهٗ فَقَالَ رَبِّ اِنَّ ابْنِيْ مِنْ اَهْلِيْۚ وَاِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَاَنْتَ اَحْكَمُ الْحٰكِمِيْنَ ٤٥ قَالَ يٰنُوْحُ اِنَّهٗ لَيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚاِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنِّيْٓ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ ٤٦
Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.” Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.” (Hūd/11: 45-46).
Orang-orang yang beriman bersama Nabi Nuh yang selamat dari topan dan banjir lalu berkembang biak, sampai kepada manusia sekarang. Di antara mereka ada yang mukmin dan ada pula yang kafir. Ada yang ditimpa azab di dunia ini sehingga musnah, dan ada pula yang diselamatkan. Ada yang bahagia dan ada yang sengsara, ada yang kaya dan ada pula yang miskin. Allah berfirman:
قِيْلَ يٰنُوْحُ اهْبِطْ بِسَلٰمٍ مِّنَّا وَبَرَكٰتٍ عَلَيْكَ وَعَلٰٓى اُمَمٍ مِّمَّنْ مَّعَكَ ۗوَاُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٤٨
Difirmankan, “Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang pedih.” (Hūd/11: 48).